About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Monday, October 5, 2020

#TheJourneytoRecovery #1 Awaken

Siang ini hujan,
Setengah kedinginan sampai ke RS tepat jam 13.10, terlambat 10 menit dari jadwal.
Tensi siang ini pre HD 195/120. Tinggi. Iya, pagi ini terlalu lemas untuk bangun tidur dan minum obat tensi.

Seperti kebiasaan, kalau waktu cuci darah siang pun tidak minum obat. Percuma, paling tercuci.

Jam tiga-an mata mulai berat setelah menyelesaikan beberapa chapter Dan Brown. Aku pun tertidur.

Tiba-tiba terbangun dengan rasa asing. Aku terbatuk-batuk. Dadaku terasa tertindih. Dokter Ivan di bed sebelah sedang memeriksa Bu Siti(ibundanya Rizki, teman SMP ku yang kebetulan bareng jadwal HD-nya. Hanya saja beliau 3x seminggu, aku 2x)

Rasa dada tertindih makin parah, punggungku turut merasa sakit. Aku meraba dadaku seperti tidak berdetak, kalaupun masih berdetak halus sekali detakannya. Dokter Ivan sudah pergi, aku memanggil perawat.

"Mbak Lela...!"

Mbak Lela nongol dari balik meja perawat, "iya... I'm coming...."

Begitu berada di sampingku, Mbak Lela bertanya, "ada apa?"

"Aku lemes, Mbak."

"Aku tensi dulu ya?"

Aku sudah tidak bisa mrnyahut, suara Mbak Lela terdengar jauh sekali. Telingaku berdenging. Makin batuk-batuk karena dadaku terasa sempit.

"Tensinya habis... 80/60. Aku guyur NaCl ya?"

Aku cuma bisa diam, memejamkan mata. Yang kulihat kunang-kunang, sementara di telingaku seperti ada jangkriknya. Berdenging.

"Aku ambilkan oksigen ya?"

Dengan segera Mbak Lela mendorong oksigen dan memasangkannya ke hidung. Dia juga meninggikan bed bagian kaki dan menurunkan bagian kepala.

Pelan-pelan batukku berkurang. Oksigen pun kembali mengalir ke otak.

"Tensinya sudah naik, 120. Alhamdulillah."

Aku merasakan sudah lebih enakan. 

"Minum dulu yang panas ya," Mbak Lela mengisyaratkan pada anakku untuk memberiku minum dari termos kecil bergambar mickey mouse yang selalu kubawa.

Aku minum sedikit. Rasa dada tertindih sudah hilang. Alhamdulillah ya Allah.

Aku tidak tahu apa jadinya kalau aku tidak dibangunkan, kena serangan jantung dalam keadaan tidur. Kehabisan tensi. Mungkin aku sudah wassalam.

5 Okt 2020
RS PKU Muhammadiyah Wonosobo

Https://Kitabisa.com/ginjalnessa

No comments:

Post a Comment