About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Friday, January 11, 2019

#puisi Jebak

Di tengah putaran rasa
Angkuhku berdiri
Sendiri
Terhenti
Pada saat itu

Tak teredam
Angan sedikit demi sedikit sirna
Kesempatan tiada
Kerinduan hampa

Hati masih congkak
Mengharap
Yang tlah berpunya
Dan ingatan terjebak di sana
Dalam cinta

#puisi Gelisah

Kalau aku mati,
Katakan padanya aku mencintainya
mencintai keluguannya
Mencintai rasa yg disebabkan olehnya

| wan an

Friday, January 4, 2019

#cerpen Lelakiku

Sore seusai hujan, kota Wonosobo menyisakan kabut. Kota terasa tenang, kecuali di sudut taman plaza ramai orang. Para ojek pangkalan setia menunggui stanplat, siapa tau ada penumpang turun dari bus-bus antar kota.

Aku berjalan tergesa menuju pool agen travel, jam tujuh malam aku harus sudah sampai Semarang. Biasa, mendadak tugas negara.

"Mbak, tiket ke Semarang satu," ucapku pada penjual tiket.
"Jam 15.00 atau jam 15.30?"
"Jam 15.00. Lebih cepat lebih baik."

Segera dia memberiku secarik kertas tiket dan aku duduk menunggu mobil yang akan mengangkut ke Semarang.

Aku bersyukur memilih tiga puluh menit lebih awal. Tak pernah menyangka karena perbedaan waktu setengah jam itu, aku bertemu dia.

***

Sepanjang jalan aku mengantuk. Karena beli tiket mendadak aku ditempatkan di pojok belakang. Bisa untuk tidur lagi. Itu sebabnya aku tak menghiraukan orang-orang di mobil kecil travel yang berisi tujuh orang. Apalagi sopirnya.

Setengah perjalanan aku terbangun. Anak penumpang di depanku muntah-muntah. Mobil mulai berisi percakapan-percakapan kecil.

"Mbak, Semarangnya mana?" Sopir mulai bertanya padaku.
"Tugu muda aja, mas," aku menjawab, lalu pandanganku mengarah ke spion depan mencari wajah sopir.

Deg!

Jantungku berdebar.

Aku melihat garis hidungnya, kemudian bentuk bibirnya. Saat itu dia juga melirik ke spion lalu tersenyum lebar. Giginya rapi. Aku merasa wajahku bersemu merah. Tampan.

Kupalingkan wajah, pura-pura menatap barisan perbukitan Sumowono. Ah, sebentar lagi sampai.

***

"Sukun ya, mas," pasangan muda yang membawa anak menghentikan mobil.
Mereka penumpang terakhir dalam mobil selain aku, lainnya sudah turun di jalan.

Aku memandangi sopir itu keluar dan memutar untuk membuka pintu. Penumpang di depanku turun semua. Tinggallah aku sendiri di jok belakang.

Aku berniat pindah ke depan, tepat saat sopir tampan itu mengerling dan memberiku kode untuk pindah ke depan. Di dekat sopir.

Aku pindah ke depan, siapa juga yang mau pindah tengah tempat anak tadi muntah-muntah. Aku diam-diam memperhatikannya ngobrol kecil dengan anak itu dengan raut khawatir.

Sesaat kemudian, dia kembali ke mobil. Jantungku berdebar-debar sepanjang jalan.

"Siap-siap nyuci mobil," kataku.
Dia menoleh ke jok tengah, terkekeh, "ah iya... Tidak apa-apa."

Lalu tangannya memutar musik. Aku memperhatikannya. Playlist album Virza.

Kau cantik hari ini...
Dan aku suka

"Acara apa di Semarang?" Dia memulai percakapan.
"Ada workshop."
"Acaranya di mana?"
"Hotel **** dekat Simpang Lima." Itu sebabnya aku turun Tugu Muda, mobil shuttle tidak antar sampai lokasi, harus turun jalan terdekat ke Simpang Lima.

"Aku antar," katanya.
Aku menoleh. "Emang boleh?"
"Kan penumpang terakhir, lagipula tidak ada trip lagi setelah ini?"
"Pulang ke Wonosobo?"
"Tergantung nanti...," jawabnya mengambang. Lelah.
Aku mengerti.
"Tapi temani aku makan dulu."
Eh?

Aku melirik jam di tangan. "Jam enam yah...? Pantas aku juga lapar."
"Acaranya jam berapa?"
"Jam tujuh malam." Sebenarnya dinner sudah disediakan panitia. Tidak apa-apalah.

"Ini yang di tiket nomor telponmu?"
"Iya."
Dia mengeluarkan telepon genggamnya dan memencet nomor. Segera hapeku berdering.
"Kusimpan ya... Namanya Eva?"
"Iya. Kamu siapa?"
"Joni."

Aku meliriknya tak percaya.
"Joni?"
"Iya, beneran itu namaku. Perlu lihat KTP-ku?"
Aku tertawa, aku simpan nomornya dengan nama Sopir Travel.

Mobil tidak langsung ke hotel yang berada tepat di samping mall, tapi berhenti di deretan pedagang kuliner tak jauh dari situ.

Setelah mendapat tempat parkir, kami menuju pedagang nasi goreng, dia mengamit tanganku mantap sepanjang jalan. Kubayangkan kami seperti sepasang kekasih. Aku tak mampu bertatap mata dengannya saat ngobrol kecil tentang suasana Semarang malam itu, hanya memandangi trotoar. Berusaha bersikap normal, tidak seperti anak SMA kasmaran.

Sepanjang makan malam, dia memandangi siaran sepak bola di televisi, aku memandangi wajah tampan dan tubuhnya yang tinggi atletis. Makan malamku hari ini tidak mewah, tapi tetap sangat spesial.

Sampai di hotel pun aku masih terbayang-bayang.

***

"Sudah selesai acaranya?"
Sekitar jam sembilan malam aku mendapatkan pesan Joni.
"Sudah, tadi cuma pembukaan. Acaranya besok dua hari."
"Ya, istirahat."
"Kamu di mana?"
"Perjalanan pulang ke Wonosobo."
"Sambil nyetir kok bisa SMS?"
"Tidak apa-apa. Aku sendiri."
"Hati-hati lho..."
"Berarti pulang kapan?"
"Rabu."
"Bareng aku aja."
Tidak kubalas.

***

Hari-hari di Semarang kulewati dengan kesibukan. Banyak hal baru kupelajari. Aku bahkan sudah lupa pada sopir tampan bernama Joni itu.

Saat tiba waktu pulang barulah aku ingat dia. Aku mencari wajahnya di agen travel, dan mobil Luxio yang dikendarainya, tapi tidak ada. Sepanjang perjalanan pulang aku ingin mengirim pesan tapi tidak enak hati.

Malam itu di rumah aku tak henti memikirkannya.

Bip!
Sebuah pesan masuk.

"Sudah pulang?"
"Sudah."
"Maaf tadi aku ke Jogja."
"Pantesan aku cari kamu tak ada."
"Nyari aku kangen ya?"
"Enak aja."
"Aku kangen."

Aneh. Sebenarnya aku juga, tapi mana mungkin aku mengatakannya.
"Besok aku ke Jogja lagi."
Aku menghitung-hitung, "jam berapa sampai Wonosobo lagi?"
"Jam empat sore. Besok makan bareng ya?"
"Oke."
"Ada sesuatu yang aku ingin bilang?"
Wah...
"Apa?"
"Aku sudah punya istri."

Aku sudah tahu.

***

"Temani aku ke alun-alun." Pinta Joni setelah kami menyantap sate Cak Zen yang nikmat itu.
"Alun-alun?"
"Aku belum pernah ke sana."
Astaga. "Kamu orang mana sih?"
"Magelang."
Pantas.
"Aku baru seminggu di sini."

Mana mungkin aku bilang tak ada yang duduk di alun-alun jam segini, kecuali banci dan ABG pacaran.

Kami memilih bawah beringin dekat tukang ronde. Aku menjabarkan sekilas peta Wonosobo padanya. Aku bilang padanya posisi kami sekarang dekat sekali dengan mes tempat kerjanya. Hanya perlu berjalan lurus.

Ada satu hal darinya yang mencuri hatiku. Dia setype denganku. Selera musiknya sama,  umur kami juga hanya terpaut satu tahun, bahkan usia anak kami sama.

"Kalau aku orang Wonosobo, mungkin dulu kamu nikahnya sama aku," katanya suatu hari.
Yeah... may be.

Dia lugu.

Hari gini mungkin hanya dia lelaki yang terang-terangan tertarik tapi kegiatannya hanya ngajak makan dan ngobrol saja. Hal itu menambah rasa sayangku padanya. Tiap hari dia menjadi tempat curhatku, tempat sampahku, tempatku berkeluh kesah.

Datanglah bila engkau menangis
Ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku, aku lelakimu

Mungkin pelukku tak sehangat senja
Usapku tak menghapus air mata
Tapi ku di sini sebagai lelakimu
...

Ya, dia lelakiku.

***

Sudah beberapa bulan ini kami berteman. Aku menikmati saat-saat menemaninya makan malam dan memandunya dengan motorku keliling kota.

Favorit kami adalah duduk di alun-alun mendengarkan ceritanya tentang penumpang-penumpangnya. Aku bahkan cemburu kalau ada penumpang cantik duduk di depan dekat sopir tapi dia bisa meyakinkanku mereka cuma penumpang biasa. Ngobrol saja tidak.

"Hari ini acaranya apa?" tanyanya kadang-kadang. Kode ngajak jalan.
"Tidak ada."
"Ikut ke Jogja ayok."
Aku berpikir sebentar. Kebetulan, aku harus mengambil hape-ku yang sedang diservis di tempat Andre, temanku di Jogja.
"Memangnya tidak apa-apa?"
"Nggak. Aku bawa elf."
"Oke."

Karena aku penumpang gelap, dia menjemputku di jalan, bukan di agen.
Saat aku sudah duduk di sampingnya ia memegang tanganku erat. Jika ia melepasnya karena harus mengopling atau hal lain, aku merasa kehilangan yang dingin.

Ini kedua kali aku jadi penumpangnya. Aku hanya menemaninya ke Jogja, makan nasi padang di warung dekat pool sambil menemaninya menunggu penumpang berikutnya lalu kembali ke Wonosobo. Tidak jadi menemui Andre. Aku merasa ketemuan dengan Andre akan mengkhianatinya.

Sepanjang jalan, jika ada berpapasan dengan temannya, maka Joni akan langsung dapat telepon yang isinya menggodanya.

Para sopir ini memang ahli dalam telepon dan SMS sambil menyetir

***

"Hari ini ada acara?"
Pagi itu Joni meneleponku. Suaranya sedih.
"Ada apa?"
"Aku dipecat."
"Kok bisa? Terus kamu mau pulang ke Magelang?"
"Ayo temani aku jalan-jalan."

Inilah firasat kehilanganku tempo hari. Aku menjemputnya tanpa kata-kata dan mendengarkan saja dia menumpahkan uneg-unegnya.

Aku mengajaknya ke tempat wisata, mencoba membuatnya ceria. Ketika tengah hari, kami sudah duduk di pinggir telaga. Ia bersenandung.

Akulah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Akulah yang mampu menenangkan badai

Aku lelakimu...

Saat sore tiba, aku mengantarnya ke terminal. Dia memelukku sekejap, dan lelaki itu hilang untuk selamanya.

***

Selesai

Saturday, December 29, 2018

#cerpen Kondisikan Rindu

Aku berdebar. Di sisi kolam penuh ikan berkecipak dan sedikit terang bulan, matamu memendarkan cahaya lilin dari gelas, indah, tak terlukiskan.

Dalam otakku mengalir lagu tentang surga, kusuarakan segera.

Baby, you're all that I want
When you're lying here in my arms
I was thinking it's hard to believe
We're in heaven

Kamu melirik, senyum tersungging di bibirmu. Ingin kulumat, mungkin akan berasa bir, seperti cairan keemasan berbuih di mejamu.

Aku membacanya dan mengartikannya sebagai cinta.

***

"Kamar mana?" tanyamu.
"123. Aku tidak tutup pintunya, kemarilah."

Semua berlangsung singkat. Begitu kamu masuk kità langsung saling mengumbar birahi.

"Jangan bilang siapa-siapa," katamu malu-malu.

Entah mengapa instingku berkata aku yang pertama. Aku merayakannya sepuas-puasnya.

Keluguanmu membuatku makin ingin menyanyikan seluruh lagu romansa. Sekali raga menyatu, selamanya jiwa saling mengikat. Tak ada janji-janji, tak ada mimpi-mimpi. Tak ada saksi. Keindahan adalah milik kita, disimpan saja.

***

"Kenapa tadi kamu diam saja?" Kamu cemberut.
"Aku harus bagaimana? Woro-woro kalau kita pacaran?"
"Bukan gitu...," kata-katamu terputus.
Aku tahu, kamu juga tak mengerti.
Memang berat kalau teman kerja jadi kekasih, lebih berat lagi jika mengingat siapa aku dan lebih penting lagi, siapa kamu.

Ah

Aku dan kamu tak kan tahu
Mengapa kita tak berpisah
Walau kita tak kan pernah satu

Kenapa sih bersamamu selalu muncul lagu di otakku?

"Tadi aku kesitu kok nggak ketemu?" Balasku.
"Mungkin belum beruntung," candamu. Aku membayangkan kamu sedang rapat sambil mengetik dan cengengesan.

Oh babe... Haruskah kubilang mendapatkan hatimu saja sudah keberuntungan besar untukku. Aku jadi tidak merasa sendiri di dunia ini. Tiap hari masih bisa tersenyum, karena punya cinta. Punya kamu...

"Aku kangen."

***

"Kok aku dicuekin?" Wa ku tak dibalas beberapa hari ini.
"Sibuk sih."

Alasan sibuk adalah alasan yang tak bisa kuterima sama sekali. Bagaimanapun, dulu, kesibukan yang menyatukan kita. Ini akhir tahun, laporan akhir tahun memang bikin sibuk.

"Tahun 2019 ada aturan baru dari kantor," aku mengalah. Kembali yang kubahas denganmu soal pekerjaan.
"Iya, nanti kukondisikan."
"Aku juga dikondisikan sekalian."
"Dikondisikan bagaimana?"

Kukirim gambar hati besar besar.
Agar kamu mengerti aku selalu mencintaimu, selalu merindukanmu.

Beberapa tahun ini hanya kamu yang mampu membuatku berbunga-bunga dan bertingkah seperti anak sekolahan. Jatuh cinta lagi dan lagi padamu adalah seniku mencintaimu.

***

~ merry xmas n happy new year

Saturday, December 15, 2018

#kisahginjalku bag 3

Aku menjalani HD pertamaku dengan lancar. Dalam hatiku berharap bisa mendapatkan tempat untuk HD rutin di RS ini, namun ternyata mendapatkan tempat HD rutin tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak semudah yang kubayangkan.

Perasaan galau dan campur aduk membuatku terpuruk. Aku menyalahkan diri sendiri, aku menyalahkan kopi, aku menyalahkan kopi. Aku bahkan menyalahkan ibuku. Rasanya geram sekali bahwa aku-lah yang harus diuji dengan penyakit ini.

Setelah cuci darah pertama aku konsultasi ke beberapa rumah sakit, tak semudah bertemu dokter dan besok aku bisa kembali cuci darah lagi. Di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo akhirnya aku mendapatkan jadwal rutin HD, dokternya juga baik sekali.

Di ruang Hemodialisa RS PKU, aku paling sehat dan segar. Hanya sesekali aku minta oksigen, jika sesak dan nyeri di dada sudah tak tertahankan atau saat HB di angka 5,6,7. Aku takut otakku tak bisa berfungsi juga kalau tidak ada oksigen yang cukup.

Kegiatan rutin di rumah sakit membuatku banyak melihat, mendengar dan merasakan peristiwa di sekitarku. Sehingga walaupun sakit, aku masih sangat bersyukur keadaanku jauh lebih baik dari orang lain.

Selain itu, aku bertemu pula dengan keluarga baru sesama pasien cuci darah bersama pendampingnya. Kami banyak berbagi informasi ataupun saling bercerita.

Berupa-rupa kisah yang terjadi di ruang HD. Ada senang ada sedih. Ruang itu bagai rumah kedua bagiku.

Setengah tahun menjalani cuci darah, aku tidak merasa sendiri. Banyak teman seperjuangan. Ada yang sudah berhasil mengurangi jatah seminggu tiga kali menjadi dua kali. Ada yang sekarang hanya seminggu sekali. Namun ada pula yang menyerah.

Allah yarhaam.

***

Aku tahu ini ujian berikutnya. Jika aku mampu melewati rintangan ini, mungkin Allah akan mengangkat derajatku. Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya.

Mungkin selama aku sehat aku kurang bersyukur. Mungkin ini cara Allah menegurku supaya makin rajin ibadahku, supaya aku memperbaiki sholatku. Supaya aku tak mengejar-ngejar dunia dan melupakan akherat.

Allah menyayangiku sehingga menguji kesabaran dan keikhlasanku.

Aku tulang punggung di rumah. Jika aku sakit dan berbaring saja di rumah, habislah. Itu sebabnya kututupi kesedihanku dengan keceriaan. Aku beraktifitas normal, hanya sesekali membatalkan janji atau pekerjaan karena harus kontrol dokter

Teman-teman dan saudara yang datang silih berganti kularang menangis. "Lihatlah! Aku baik-baik saja."

Tak terhitung banyaknya orang, sesama pasien, dokter, bagian pendaftaran atau penunggu pasien, bahkan petugas IGD yang bertanya padaku, "siapa yang sakit?" dan melongo tak percaya ketika kubilang, "aku."

Keadaanku benar-benar baik-baik saja. Aku bahkan masih menyetir motorku sendiri kemana-mana.

Lalu, pada akhir musim panas suatu siang saat mau pergi ke kecamatan, aku jatuh dari motor. Pingsan dengan siku robek tak karuan. Tetangga yang melihat bilang motorku oleng jalannya. Sejak itu kutahu keseimbangan tubuhku hilang. Jalanku mulai sempoyongan seperti orang mabuk. Sikuku dijahit tiga jahitan.

Dicabut lagi satu kenikmatanku oleh Allah.

***

Bersambung... Part 4