About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Tuesday, December 22, 2020

#Puisi RUMAH GUBUG BERLANTAI LIMA

Rumah gubug berlantai lima
Menjaga sebuah lereng perkampungan
Saksi sebuah kota tumbuh
Saksi gedung-gedung menelan persawahan

Rumah gubug berlantai lima
Tak punya pintu keluar
Tak punya pintu masuk
Tak jua punya jendela

Rumah gubug berlantai lima
Sejarah sebuah kota
Anak-anak tumbuh 
Melalui tiga masa

Rumah gubug berlantai lima
Dijaga oleh zaman
Dipelihara oleh kemiskinan
Rapuh ditinggalkan
Tak bisa untuk pulang

Rumah gubug berlantai lima
Pernah berisi cinta
Sepasang orangtua dan anak-anaknya
Nasib memencar semuanya

Rumah gubug berlantai lima
Bukan lagi rumah manusia
Masih rumah, nostalgia

Des 2020

Thursday, November 26, 2020

#puisi Pertemuan

Seketika waktu patah
Di ujung kabut dan titik gerimis
Perjalanan berliku menujumu
Hadirkan deja vu

Kenangan terhenti
Kita dua manusia jatuh cinta
Kala itu, dengan segala rindu
Hingga aku dan kamu
Terjebak keadaan
Saling meninggalkan

Lalu,
Hari ini kita bertemu lagi
dan menyadari
Getaran itu masih ada
Hanya tak bertemu frekuensinya

Kuripan, 21 Nov 20

Tuesday, November 10, 2020

#puisi Awalnya; Selamat Hari Pahlawan

Hari itu, di kantor itu semua berubah.
Hari itu di kantor itu, nasibku sudah divoniskan.
Divoniskan dengan cara ujian terberat yang pernah kurasakan dari Tuhan.
Hari itu juga di kantor itu...
Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang,
Maha baik
Maha kaya
Maha penyembuh
Maha segalanya
Memberiku keajaiban
...
Berupa kesempatan hidup kedua.

Pada hari itu
Aku tak menangis
Aku tak mampu menangis
Pun tak ada penyesalan
Dan segala seharusnya

Aku tertawa
Menertawai kebodohanku
Karena tanda tandanya disana
Gejala gejalanya di sana
Tuhan sudah kasih tahu
Dengan segala kemahasoktauanku
Dengan segala acuhku
Akan tubuhku
Akan tingkahku
Akan gaya hidupku

Kini,
Tuhan telah bukakan mataku
Beri aku waktu
Berserah
Memohon ampunan
Memohon kesembuhan
Memohon sedikit umur
Menjadi pahlawan bagi diri sendiri
Pejuang tangguh
Untuk berbahagia
Dengan hemodialisa.

Dafam, 101120

Friday, October 23, 2020

#DIALYSISJOURNAL #5 ALLAH MAHABAIK

Setelah operasi baloning di bulan Agustus lalu,  lenganku sudah tidak bengkak, tapi kepalaku masih bengkak. Itu aku ketahui setelah beberapa kali HD.

Aku kembali konsul ke dokter Donnie. Dokter Donnie menjadwalkan CT Scan.

Aku membawa surat pengantar CT scan bertanggal 15 September ke bagian radiologi. 

"Ibu Anissa, ada hasil lab ureum dan creatin terakhir?" tanya petugas.
"Terakhir tanggal 20 Agustus, mbak."
"Iya, ndak papa."

Kukeluarkan hasil lab terakhir waktu kontrol di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo yang penuh bintang. Terutama dua bagian terakhir. Ureum kreatinin bintang tiga. Nilai kritis.

"Ini ureum dan kreatinnya tinggi sekali. Kami tidak berani, bu."
"Hah? Terus gimana, mba?"
"Kami tidak berani karena harus pakai obat. Karena ureum dan kreatin tinggi sekali Ibu setelah scan harus HD. Ibu HD dimana?"
"Di Wonosobo."
"Itu sebabnya kami tidak berani."

Aku belum paham maksudnya. Obat apa? Kenapa tidak berani? Apa hubungannya dengan HD?

"Aku WA dokter Donnie dulu ya, mba."
"Baik."

Aku pun menyampaikan ke dokter Donnie apa yang dikatakan petugas radiologi.

"Oh iya, harus kontras," kata dokter Donnie, "sebentar, jangan pulang dulu, tunggu di depan poli."

Aku dan adikku  pun menunggu di depan poli. Sekitar satu jam kemudian suster memanggil. 
"Ini karena Ibu Anissa nilai kreatin dan ureum tinggi sekali, jadi CT scan dan HD dirujuk ke RS Kariadi," katanya.

Aku harus mengurus surat pengantar pada dokter Raymond di lantai L.

Di lantai L aku diantar satpam ke depan ruang dokter Raymond, aku menceritakan keperluanku pada petugas yang menerima surat pengantar, lalu kembali disuruh menunggu.

Tak berapa lama petugas kembali, "Ibu, ini sudah sore dokternya sudah pada pulang. Ibu bisa pulang saja, nanti tunggu telepon dari rumah sakit untuk jadwal CT scan-nya."

-o0o-

#Senin, sebulan kemudian

Aku sedang di RS menjalani HD rutin, ketika anakku masuk ke ruangan.
"Mah, Ibuk bilang besok Selasa-Rabu ke Semarang."
"Oh ya? Kamu abis dari tempat Ibuk?"
Dia mengangguk. Dia memang memanggil neneknya dengan sebutan Ibuk. Mungkin karena mendengar aku memanggil ibuku begitu.

Aku sedang menunggu kabar dari rumah sakit untuk tindakan CT scan yang rencananya harus dirujuk ke RSUP Dr Kariadi. Selama menunggu aku banyak browsing tentang CT scan dan hubungannya dengan HD, ternyata ada obat yang dimasukkan dan harus dikeluarkan lagi. Untuk orang normal cukup minum banyak-banyak nanti keluar bersama kencing, tapi tidak bisa seperti itu untuk pasien gagal ginjal kronis yang menjalani HD.

Hari berganti hari, hingga sebulan baru dapat kabar dari RS SMC.

Aku menghubungi ibuku. Ibu bilang minggu depan hari Selasa dan Rabu harus ke rumah sakit. "Tidak jadi dirujuk ke RS Kariadi. Tapi karena minggu depan Pakde mantu, kita ke sana besok saja."

Aku tertawa. "Ya nggak bisa begitu, ini kan jadwal dari RS minggu depan. Mana bisa kesana besok?"

Ibuku bersikeras, "Orang dari RS bilangnya Selasa dan Rabu boleh minggu ini boleh minggu depan kok."

"Tadi katanya minggu depan?"

Karena ibuku bersikeras akhirnya aku membatalkan rencana lain dan pergi ke Semarang esoknya. Itupun harus menunggu ibuku menyelesaikan urusannya dulu.

"Kita berangkat habis dhuhur," kata Ibu.
"Ibu sih gimana...? Dokter Donnie kan mulai jam 10 sampai jam 1."
"Ya sudah... Ibu bisa berangkat jam 10."
Aku tidak yakin tapi ibuku sudah tidak bisa dibantah.

Kami tiba di RS jam setengah 3, tentu saja dokter Donnie sudah tidak ada. Kami ditolak di pendaftaran.

Karena sudah disitu, kami pun menuju ke radiologi untuk memastikan. Sebenarnya karena aku tidak yakin dengan ibuku. 

"Ini miskomunikasi ya, Bu. Jadi jadwal ibu Anissa itu tanggal 21 Oktober. Hari Rabu depan. Bukan hari Rabu ini," kata petugas radiologi.

Nah kan!

-o0o-

Selasa seminggu kemudian aku ke Semarang lagi. Kali ini aku mengajak adikku si Retno.

Setelah melalui pemberkasan pertama, kami menuju poli dan menunggu dokter Donnie. Setelah bertemu dokter Donnie lalu diarahkan untuk menuju poli dalam untuk minta pengantar lab.

Kami meluangkan waktu untuk sholat di mushola lantai 2  dan makan di lantai L sebentar sebelum lanjut.

Aku lalu membawa surat internal dari dokter Donnie untuk pemberkasan kedua di BPJS, agak ribet sepertinya karena petugas BPJS harus telepon kesana kemari. Kami menunggu dengan sabar. Setelah clear kami pun menuju poli dalam. Bertemu dr Dwi dan mendapatkan pengantar lab.

"Ini labnya biasanya dapat dua, tapi untuk mbaknya karena beresiko dapat banyak." Suster membocorkan.

Kami menuju laboratorium. Benar. Aku harus diperiksa banyak hal, dari Hepatitis, HIV, PCV, Kreatinin, Ureum hingga Rapid test. 

Rapid test memang menjadi keharusan di masa pandemi Covid-19 ini dimana-mana. Hanya rapid test yang harus bayar tunai. Lainnya dicover BPJS. Setelah itu menuju radiologi untuk ronsen thorax lagi.

Karena sudah di radiologi, aku pun menanyakan untuk jadwal CT scan besok ke petugas. Ketika aku menunjukkan surat pengantar petugas langsung kebingungan.

"Ibu, ini surat pengantarnya tanggalnya sudah sebulan yang lalu."

Oh iya!

"Iya, mbak. Karena jadwalnya mundur mundur terus, tapi bisa ditanyakan ke dr Raymond, katanya saya udah dapat jadwal CT scan dan HD untuk besok." Aku memberitahunya.

Sore itu, kami menunggu petugas mengurus surat pengantar yang baru. Kami disuruh pulang, menunggu di rumah. Kami pun pulang ke rumah kakak sepupu di Tembalang. Tiba disana sekitar maghrib.

Aku langsung mengistirahatkan kakiku yang sakit karena seharian muter-muter di rumah sakit.

Sekitar jam delapan malam akhirnya ada telepon dari rumah sakit. Dua kali. 

Telepon yang pertama memberitahukan jadwal CT scan jam sebelas, dan menyuruh besok pagi  datang ke poli untuk mengambil surat pengantar.

Telepon yang kedua menanyakan hasil lab ureum dan kreatinin.
"Belum diambil hasilnya, sus."
"Ibu sudah lab?"
"Sudah."
"Dimana?"
"Di Telogorejo."
"Belum, Ibu. Tadi Ibu tidak cek ureum dan kreatininin."
"Sudah kok, sus. Aku sudah bilang tadi minta cek ureum dan kratinin."
"Kapan?
"Tadi sama dokter Dwi. Masa belum?"
Seingatku di surat pengantar lab juga sudah dicentang untuk lab ureum dan kreatinin.
"Kalau begitu, ibu besok harus datang lebih awal. Jam sembilan."
"Baik."

-o0o-

Paginya, kakiku masih sakit sekali. Kami berangkat ke rumah sakit naik Grab. Jam sembilan kami sudah tiba di poli. Setelah memberitahukan kehadiranku ke suster tak berapa lama suster memanggil.

"Ibu Anissa bisa langsung ke radiologi saja, nanti suratnya kami susulkan."

Dalam perjalanan ke radiologi kami sekalian mengambil hasil lab dan rapid test juga hasil ronsen di radiologi.

HbsAg negatif, HIV negatif, PCV negatif, Ureum dan kreatinin bintang bintang seperti biasa, rapid test juga non reaktif dan hasil ronsen mengecewakan, selain kardiomegali(seperti yang aku sudah tau), juga efusi pleura alias paru terendam cairan serta Bronkhitis!

Aku jadi ingat percakapanku dengan mbak Alma yang sudah transplan tentang dokternya yang menyarankan untuk segera transplan mumpung organ lain masih bagus. Juga postingan seseteman di grup HD yang bilang ditegur dokternya kenapa suka merusak organ tubuh yang berpasang-pasangan karena merokok. 

Aku berdoa dan berdoa minta kesembuhan. Ginjalku sudah rusak, jantung juga sudah berefek, kali ini paru-paru juga terganggu... semoga Allah mengangkat penyakitku dan memberi kesembuhan yang tidak meninggalkan penderitaan.

-o0o-

Rabu, 21 Oktober 2020 

Jam sebelas tepat, setelah bertanya apa saja keluhanku sehingga harus CT scan, dan sekali lagi mengingatkan bahwa tindakan kali ini beresiko suster mengajakku masuk ke bagian CT scan. Setelah masuk ruangan dan berganti baju operasi, aku disuruh berbaring di mesin MRI yang seperti pesawat terbang itu.

"Mbak, ini kan dimasukkan obat kontras jadi nanti harus langsung HD."
"Iya, sus."
"Nanti HD nya jam 1."
"Iya."
"Sekarang kita pasang infus dulu ya."
"Iya."
"Bra-nya sudah dilepas kan?"
"Iya."
Setelah itu suster yang berjumlah tiga orang sibuk mempersiapkan infus dan obat kontras.

Tusuk pertama di bagian lengan bawah siku.
"Aduh bengkak," salah satu suster berkata,"maaf ya Ibu ini bengkak, kita tarik lagi dan pindah."
Lagi-lagi aku cuma bilang iya.

Tusuk kedua di atas jari-jari, bengkak. 
"Pembuluhnya kecil dan belak belok, padahal obatnya tidak seperti HD... HD kan pelan. Ini nanti obatnya cepat. Harus cari pembuluh yang besar."

"Mungkin karena kedinginan, jadi mengkeret, sus," aku mencoba bercanda karena suster sudah kelihatan tegang dan khawatir.

Tusuk ketiga di pergelangan tangan luar, bengkak.
"Harus cari yang paling nyaman. Kalau sampai gagal, obat tidak masuk harus diulang."

Tusuk keempat dekat yang ketiga, berhasil. 

Pemeriksaan pun dimulai. Kepalaku diikat. Lalu bed bergerak masuk ke mesin. Bunyinya seperti di dalam pesawat terbang. Aku bingung aku harus tutup mata atau buka mata. Kuputuskan untuk merem saja.

Terus terang aku takut, apalagi tahu tindakan ini beresiko.

"Diam, jangan menelan," kata mesin. Aku bahkan menahan nafas juga, tegang. 
"Selesai." Aku bernafas lagi.

Kukira selesai betulan. Ternyata proses ini diulang-ulang.

"Obat masuk." Suster memberitahuku.

Seketika rasa sakit mengisi pembuluh darahku. Seperti ditembak. Sakit sekali.

"Sakit, sus!" kataku lemah.

Suster jelas saja tidak bisa mendengar karena mereka berada di ruangan lain.

Kembali aku keluar masuk mesin, hingga selesai proses sekitar satu jam kemudian. Suster mulai mencopoti alat dari kepalaku, juga infus. Suster mengelus-elus tanganku yang penuh bengkak. Pembuluh yang bekas menyuntik obat tampak membesar sepanjang sepuluh senti.

"Biar kuoles trombopop dulu ya, semoga bengkak bengkaknya cepat pulih." Suster lalu mengaplikasikan gel dan setelah selesai aku pun ganti baju.

"Hasilnya diambil waktu kontrol ya," kata suster waktu aku keluar.

"Jangan lupa HD jam 1."

"Iya."
Akupun keluar dalam keadaan setengah demam. Menggigil karena kedinginan.

-o0o-

Aku dan adikku buru-buru mencari teh panas dan makan siang. Aku minum sebutir paracetamol. Lalu kami menuju ruang HD.

Beberapa suster mengenaliku. Aku memang pernah HD di situ setelah tindakan dengan dokter Donnie beberapa bulan yang lalu.

Setelah selang terpasang, HD dimulai, aku tayamum dan sholat. Lalu berdoa serta berterima kasih. Betapa berat perjuangan ikhtiarku sampai detik ini, namun betapa banyak kebaikan-kebaikan yang kudapatkan di rumah sakit ini, betapa Allah mempermudah urusanku. 

Allah mahaBaik.










Wednesday, August 26, 2020

#puisi ADA YANG RINDU

Ada yang rindu padaku
Aku tahu

Sejak pandemi mendera
kita belum pernah bertemu
Aku dengan kesibukanku
Dia dengan kesibukannya

Dia yang pernah menjadi hari-hariku
Aku mencintainya sungguh
Seperti Bulan mencintai Bumi
Setia dengan peredarannya
Selalu ada dimana dia berada

Aku mencintainya sangat
Seperti cinta matahari pada galaxy
menghidupi
menjadikannya pusat peredaran siang malamku
sumber senyum tawaku

dan ketika dunia disapa pandemi
cinta tenggelam
menjadi rindu tak berkesudahan

Bertemu pun tak bisa
Ingin menyapa namun tak kuasa

Kemarin,
Akhirnya dipertemukan
Aku melihat rindu di matanya
dan betapa aku merindukan suaranya
tawa dan pelukannya.

Ah, cinta tak pernah sederhana
diantara kita.

25 Agt 2020