About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Sunday, July 3, 2011

[ARTIKEL WANITA INDONESIA] Nessa Kartika, Babu Juga Bisa Nulis

oleh: Riza Falina, foto: istimewa 
 
]Foto: Nessa TKW Sukses
Hobi menulis sejak kecil, Nessa memutuskan menjadi penulis. Bukan hal mudah karena banyak yang menganggapnya sebelah mata hanya karena ia mantan TKW. “Saat bekerja di Hong Kong, banyak teman sesama TKW yang kebetulan hobi menulis dan kita berkomunikasi via milis. Ketika ada Facebook, saya bertemu banyak penulis Indonesia di dunia maya itu. Mereka juga yang memotivasi saya agar tidak menyerah ketika menulis,” kata Nessa, tersenyum.
Sejak SD, Nessa terbiasa mengirimkan tulisannya ke majalah yang kemudian dimuat di majalah anak-anak.
“Saya juga sering mewakili sekolah untuk lomba mengarang,” tandas Nessa.
Untuk merubah nasib keluarganya di kampung, Nessa memutuskan menjadi TKW. Tahun 2003, ia berangkat ke Hong Kong untuk menjadi pembantu rumah tangga. Saat itu usianya baru 19 tahun.
“Selain faktor ekonomi, alasan saya menjadi TKW karena ingin mencari uang sendiri yang nantinya dipergunakan untuk biaya kuliah. Maklum saja, ketika lulus SMK, orang tua saya tidak bisa memenuhi impian saya untuk membiayai kuliah,” ucap wanita kelahiran 27 Mei 1983.

Gaji Rp 3,5 Juta
Awalnya, Nessa bercita-cita menjadi diplomat karena ingin mewakili Indonesia di dunia luar.
“Tapi sayang, saya harus memupus impian itu karena faktor ekonomi yang tidak memadai. Ketika orang tua tidak bisa membiayai kuliah, saya jadi pembantu di Hong Kong. Satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali. Di keluarga, saya anak manja yang selalu dituruti semua keinginannya. Waktu kecil, orang tua mempunyai pembantu untuk menemani anak-anaknya. Siapa sangka jika dia kemudian hari saya juga menjadi pembantu,” ucap Nessa.

Satu tahun bekerja di Hong Kong, Nessa memutuskan untuk tidak melanjutkan kontraknya, memilih pulang ke kampung halamannya di Wonosobo, Jawa Tengah. “Awalnya, majikan saya itu baik sekali. Setelah usahanya bangkrut, majikan saya yang laki-laki jadi stres. Kalau pulang ke rumah, dia suka mukulin istrinya dan saya,” kata Nessa.
“Waktu jadi TKW di Hong Kong, saya digaji sebesar Rp 3,5 juta. Ketika menjadi penyiar, saya hanya diberi Rp 500 ribu saja. Tentu saja tidak cukup,” beber Nessa. Tidak puas dengan itu, Nessa memutuskan menjadi TKW lagi di tahun 2007. Kali ini, ia bekerja sebagai pengasuh di Singapura.
Alhamdulillah, saya mendapat majikan yang baik. Ketika kakek (di Singapura, Nessa menjadi pengasuh seorang kakek) meninggal, saya tetap dipercaya keluarga kakek untuk menjadi pembantu rumah tangga di keluarganya yang lain,” ucap Nessa.
Dibelikan Laptop
Empat tahun bekerja di Singapura, anak ke empat dari sembilan bersaudara ini bersyukur karena ia tidak pernah mengalami kekerasan. Bahkan, ia diberi kebebasan untuk menggunakan komputer setelah pekerjaannya selesai.“Bukan main senang hati ini ketika bisa menggunakan komputer yang saya pergunakan untuk mengasah kembali kemampuan menulis. Awalnya, majikan saya berpikir kalau saya main games di laptop. Ketika mengetahui bahwa saya menggunakan laptop untuk menulis, dia terkejut dan akhirnya membelikan saya laptop,” kenang Nessa, tersenyum.

Jalannya menjadi penulis kian mulus setelah mengikuti lomba cerpen Bilik Sastra yang diadakan oleh RRI Voice of Indonesia di Singapura.“Hadiah yang saya dapatkan adalah kesempatan bertemu Presiden RI dan mengikuti upacara kenegaraan HUT RI ke-66 di Istana Negara atas undangan Ibu Ani SBY. Tentu saja saya terharu dan bangga, karena selama menjadi TKW tidak pernah ikut upacara. Jadi, waktu saya menghadiri upacara atas undangan Ibu presiden, sesuatu yang sangat menakjubkan,” ucap Nessa, bahagia.

Setelah itu, Nessa diundang diundang oleh Janet, warga negara asal Australia untuk terlibat dalam Ubud Writers and Readers Festival pada 5-9 Oktober 2011 di Ubud, Bali. “Suatu kehormatan bagi saya bisa bergabung dengan penulis terkenal, baik di dalam maupun luar negeri. Siapa sangka jika seorang pembantu menjadi pembicara di depan orang terkenal, baik dalam maupun mancanegara. Pastinya, saya deg-degan karena bertemu banyak orang dan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Tahu sendiri kan, bahasa Inggris TKW itu seperti apa. Ketika berbicara dengan gaya bahasa sendiri, sambutan mereka luar biasa. Bahkan, mereka kaget dengan latar belakang saya sebagai TKW tapi mampu berkarya,” papar Nessa. Hingga saat ini, Nessa rajin menulis di blog pribadinya yang diberi judul Babu Juga Bisa Nulis.

No comments:

Post a Comment