About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Monday, April 9, 2012

SADAR

Seperti bintang takut kehilangan matahari...
Sampai suatu saat bintang sadar, mereka tak pernah benar-benar saling memiliki

Jembatan Jatingaleh, 9 April 2012

Sunday, March 25, 2012

[PUISI] AKUI JARAK

Akuilah jarak
Meretas kesepianku
Membentang kenyataan dalam satu cekat nafas
Kujarak pula tujuan
Langkah kita makin tak menuju satu
Aromamu telah hilang dari penciumanku
Kita telah bersimpang hati
Jenuh dan tak lagi saling mengerti

Dan akuilah jarak.


Saturday, March 10, 2012

[CERPEN] Bus Terakhir ke Purwokerto

(Pernah dimuat di Tabloid Taman Plaza edisi Maret 2012)

 

Wanita muda duapuluhan tahun itu bergeming di tempatnya. Kekasihnya, seorang lelaki tegap berkaos hitam memandanginya dengan lembut. Hujan makin menderas di pertigaan Secang.

“Aku membenci hal ini, Alisa.”
“Apa, Mas?”
“Aku benci perpisahan.”

Alisa menyibakkan rambutnya, mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk menyembunyikan airmata. Airmata itu perlahan menitik. Alisa berharap dapat menyamarkannya dengan hujan.

Alisa mengulurkan tangan. Digenggamnya tangan sang kekasih, lalu ia menyurukkan kepalanya di leher lelaki itu. “Kita harus berpisah, Mas. Tapi bukan untuk selamanya. Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk kembali?”

“Alisa, kau pulang untuk menolaknya kan…?”

Alisa merinding. Bukan oleh hujan, namun oleh ketakutan tak jelas yang tiba-tiba mencekamnya. Ia sendiri tak tahu apakah ia takut jika kini meninggalkan kekasihnya, lelaki itu akan hilang selamanya. Ataukah takut pada apa yang akan dihadapinya jika ia menolak untuk pulang ke Wonosobo.

“Bapak sudah kekeuh menjodohkan aku dengan dia, Mas Danu.”

Lelaki bernama Danu itu mengusap rambut kekasihnya. Ia mengedarkan pandangannya ke suasana pertigaan yang sepi. Seseorang tampak memandangi mereka dari mushola kecil di seberang jalan. Langit masih menumpahkan hujan. Tak satupun bus menuju Wonosobo lewat. Mereka sudah berdiri hampir satu jam. Orang-orang yang sama-sama kemalaman dengan mereka hampir semuanya sudah mendapatkan angkutan mereka.

Danu hanya mengantar Alisa sampai Secang. Entah bagaimana cara ia kembali ke Jogja, ke Bandara, nanti. Yang penting Alisa mendapatkan bis jurusan Semarang-Purwokerto itu untuk pulang ke Wonosobo. Seorang manol tadi memberitahu mereka bahwa masih ada bus terakhir nanti tepat pukul sepuluh. Alisa dan Danu menunggu.
Semua gara-gara Danu hingga Alisa kemalaman. Danu menahan Alisa sebisa mungkin untuk menghabiskan waktu terakhir kalinya hanya dengan duduk memandangi lalu lalang orang dan kendaraan di terminal Giwangan. Hanya duduk. Tiada kata yang dapat mewakili kesedihan mereka. Tiada kata yang dapat mengubah kenyataan, bapak Alisa yang telah menyekolahkannya sedemikian tinggi di Jogja pada akhirnya hanya ingin putrinya menikah dengan pemuda pilihannya.

Ketika mereka tiba di terminal Magelang, mereka sudah ketinggalan bus terakhir ke Wonosobo. Alisa dan Danu menumpang mobil carteran menuju Secang.

Kini, dua jam kemudian, mereka masih terdampar di Secang.

Seseorang di balik kaca jendela mushola itu masih memandang tajam.
***
            
Tepat pukul sepuluh. Bus Semarang-Purwokerto itu datang.

Alisa dan Danu sama-sama terhenyak. Suara kondektur yang sudah meneriakkan kota-kota tujuan dari atas bus yang masih tertahan di lampu merah membuat mereka panik.

Alisa melepaskan pegangan tangannya.

Danu memandangi Alisa yang maju ke trotoar tanpa mempedulikan hujan membasahi sosok cantiknya. Butiran hujan yang mengenai wajah ayunya berkilau ditimpa sorot lampu bus beberapa detik kemudian.
Danu mengejarnya, menciumnya kening kekasihnya sekejap. “Hati-hati…”

Alisa mengangguk. Pintu bus terbuka. Wanita itu melompat naik.

Bus melaju meninggalkan Danu sendirian di pertigaan Secang.

Alisa tak kebagian tempat duduk. Ia berdiri berdesakkan dengan para penumpang lain.

Alisa menoleh ke belakang. Ingin memandangi Danu hingga bus melaju jauh menghilangkan sosok itu, namun Alisa tak bisa mendapatinya. Alisa malah mendapati sosok di balik jendela mushola itu masih memandanginya. Hingga beberapa kilometerpun Alisa masih merasakan sorot seseorang di balik jendela mushola.
***
            
“Aneh, padahal bus ini penuh. Tapi kenapa bus sepi sekali?” batin Alisa.

Alisa berdiri mendekap tas tangannya bersandar di bangku sebelah kiri bus yang diduduki oleh sepasang lelaki dan perempuan separuh baya. Alisa tak bisa mengatakan bahwa mereka pasangan suami istri, karena ini angkutan umum, siapapun bisa duduk di dalamnya bersebelahan meski orang asing sekalipun.

Dua orang itu tak berbicara satu sama lain. Wanita itu memandang keluar jendela sedangkan laki-laki itu memandang lurus ke depan. Alisa menebak jalan pikiran dua orang ini sama seperti dirinya, ingin cepat-cepat sampai rumah.

Penumpang-penumpang lain pun tak ada yang berbicara. Bahkan kondektur bus pun tak lagi berteriak-teriak memberitahukan nama kota tujuan yang kemungkinan akan dituju calon penumpang.

“Ah, mungkin karena pemberhentian selanjutnya masih nanti di Temanggung,” pikir Alisa. “Dia pasti lelah berteriak-teriak seharian.” Alisa masih meneruskan pikiran yang ditujukannya untuk lelaki tangguh berseragam perusahaan bus itu.

Di Terminal Temanggung ternyata bus tidak berhenti. Meski kondektur bus menawarkan, tak ada satu penumpang pun yang turun.

Alisa menahan rasa aneh yang menyusupi pikirannya. Ia berpikir mungkin memang tak ada satu pun penumpang yang mau turun di Temanggung.

Bus kembali melaju. Maron – Kedu – Parakan pun ternyata sama. Tak satupun penumpang yang turun. Hingga bus merayap mendaki wilayah Kledung pass, Alisa mulai merinding lagi. Bukan karena hawa dingin yang menusuk. Tapi karena keanehan yang dirasakannya.

Alisa merapatkan jaket berwarna hijau toska yang dikenakannya. Ia memandangi kembali satu persatu penumpang yang benar-benar tanpa ekspresi. “Tak satupun dari mereka yang turun… Kemana mereka menuju?” bisik hati Alisa.

Tadinya Alisa berpikir jika ada beberapa penumpang yang turun mungkin mereka masih akan mendapatkan tempat duduk. Kini ia hanya bisa menahan pegal di kakinya dengan seanggun mungkin. Hanya memindahkan tumpuan berdirinya dari kaki kanan ke kaki kiri bergantian. Untung ia mendapat sandaran meskipun agak tidak sopan karena tepat diatas orang yang sedang duduk. Alisa berharap laki-laki yang sedang duduk ini maklum.

Alisa berwajah ayu. Kulit wajahnya mulus, matanya bagus berbulu lentik. Bibirnya juga berwarna pink cerah meskipun tanpa polesan apapun. Biasanya jika di angkutan umum seperti ini selalu ada saja yang mengajaknya berkenalan. Ada yang iseng, ada yang memang pencerita yang baik dan bisa dijadikan teman dalam perjalanan. Alisa sendiri selalu menyambut baik orang-orang yang menyapanya dengan ramah. Kecuali jika orang iseng yang mengajaknya ngobrol di bus, Alisa akan memasang tampang jutek. Malas meladeni.

Danu pernah berkata, Alisa adalah calon empuk korban penipuan, pembiusan dan segala kriminal di angkutan umum karena wanita ini gampang saja percaya pada orang-orang asing yang mengajaknya bicara.
“Mas Danu… ah…” Diingatkan pada Danu membuat Alisa kembali bersedih.

Bapak adalah seorang diktator. Bahkan saat Alisa tidak ingin kuliah di Jogja dan jauh dari Ibu, Bapak memaksa. Bapak bilang untuk masa depannya. Kini, setelah ia wisuda… Tiba-tiba Bapak ingin ia menikah dengan Saputra.

Alisa mengenal Saputra sejak kecil. Alisa tahu seperti apa sifat Saputra. Sombong, tengil, playboy sejati dan sialnya ia anak orang kaya. Bapaknya Saputra, Pak Nikun adalah pemilik tujuh hektar perkebunan teh di Sigedang sana.

Alisa terlalu mencintai Danu. Lelaki yang tinggal dan bekerja di Jakarta itu bahkan rela mengisi hari libur kerjanya untuk terbang ke Jogja menemuinya kapanpun Alia atau lelaki itu rindu. Bahkan sering hanya terbang pergi pagi dan terbang pulang sore harinya.

“Mas tidak perlu serepot ini. Aku takut Mas malah jadi boros dan capek. Kita kan masih bisa berhubungan lewat telepon dan email, Mas.” Alisa pernah berkata.

“Aku hanya ingin menikmati saat-saat bersamamu. Berapapun jauh jarak yang harus kutempuh. Berapapun singkatnya waktu yang kita punya.”

Saat itu Alisa tak bisa berkata apa-apa kecuali merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu.

Alisa sedang tersenyum mengenang kembali hari-hari indahnya bersama Danu ketika diingatkan lagi dengan bayangan Bapak dan saputra.

“Bapak, Alisa sangat mencintai Mas Danu. Laki-laki itu telah berkorban banyak untuk Alisa. Alisa ingin memiliki Mas Danu sampai waktu yang tak terbatas. Ijinkan Alisa menolak Saputra, Pak…” bisik hati Alisa. Semakin menguatkan tekadnya untuk tidak menerima Saputra.

Ingatan Alisa melayang pada beberapa bulan yang lalu saat Alisa mengajak Danu pulang ke Wonosobo. Niatnya ingin memperkenalkan Danu pada keluarganya. Namun Bapak malah berang tanpa alasan. Membuat Alisa sangat malu pada Danu. Untung Danu mau mengerti dan tetap memberikan banyak limpahan cinta pada Alisa, meski saat itu Danu pulang ke Jakarta dengan tatapan sangat terluka.

Sekarang Alisa tahu alasan kemarahan Bapak, karena ia telah dijodohkan dengan putra Pak Nikun itu, Saputra. Alisa tiba-tiba tak ingin bertemu Bapak. Alisa ingin kembali ke pelukan Danu. Alisa merasa ia telah salah. Jikapun ia pulang, ia tak akan mampu menolak. Alisa tak ingin pulang!

“Tuhan tolong aku…” Airmata Alisa menitik.

Alisa buru-buru menyekanya. Ia lalu celingukan, kuatir dua lelaki yang berdiri di dekatnya melihat ia menangis di bus dan menganggapnya aneh. Tapi dua lelaki itu tampak asyik dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Alisa lalu mengalihkan pandangannya ke luar bus. Tapi yang didapatinya hanya gelap. Dari dinginnya hawa yang menusuk, Alisa tahu saat ini ia ada di Kledung Pass. Tepat di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Sedang berusaha mencari-cari cahaya apapun yang menerangkan dimana ia berada, ketika lampu di dalam bus mati.

Alisa gelagapan. Ia berusaha menoleh kekanan dan kekiri. Mencari setitik terang. Namun ia hanya merasakan dadanya menyesak. Sangat sesak… Alisa tak melihat apa-apa dalam kegelapan itu.
Alisa terperangkap dalam gelap.
***
            

“Sayang, ada apa?”

Suara laki-laki yang sangat dikenalnya membuat Alisa buru-buru membuka mata.

Anehnya, yang ada di hadapannya adalah pemandangan Stasiun Giwangan yang sibuk. Danu ada di sampingnya. Tatapan mata elang laki-laki itu dilingkupi cemas.

“Mas Danu?”
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu seperti mau pingsan?”
Alisa tak mampu menjelaskan.

Bukankah baru saja mereka mengalami perjalanan panjang dari Giwangan ke Magelang, dari Magelang ke Secang. Alisa kemudian meninggalkan Danu di Secang menuju Wonosobo? Bukankah baru saja Alisa masih berada di atas bus jurusan Semarang-Purwokerto yang aneh itu?

Kenapa kini mereka masih berada di Terminal Giwangan?

Alisa bangkit.
“Aku nggak jadi pulang, Mas. Aku akan ikut kamu ke Jakarta saja.”

Danu terperangah. Kecemasan di matanya berkali lipat, namun Alisa merasakan kebahagiaan di sorot wajah lelakinya. “Alisa, kamu yakin?"

Alisa mengangguk mantap. Ia bangkit. “Ayo kita pergi, Mas.”

Danu mengikutinya bangkit.

Mereka kemudian menuju pintu keluar terminal. Kali ini mereka melewati masjid kecil di depan Terminal Giwangan itu. Alisa melihat lagi sosok di balik jendela. Sosok yang sama yang dilihatnya di Mushola pertigaan Secang.

Kali ini Alisa tersenyum pada sosok itu dan menggandeng Danu lebih erat.

*** Selesai ***

Tuesday, February 14, 2012

[CERPEN VALENTINE] LOVAHOLIC

Duet Lonyenk Rap & Nessa Kartika

Karin hampir saja meraih gelas jus jeruk yang begitu menggoda di hadapannya. Bukan untuk diminum di hari yang memang teramat gerah ini. Tapi untuk disiramkan ke kepala Nia sahabatnya.

Ugh… Kenapa sih sahabatnya ini ga kapok juga?
“Karin… gue harus gimana dong?”
“Gimana apanya? Putusin aja…!”
“Ga bisa… aku ga mau jomblo di hari valentine…” Nia berkata dengan mimik memelas. Seolah jadi seorang jomblowati itu dosa besar.

Karin kesal, kenapa Nia tak pernah ingat juga bahwa Karin seumur hidup jomblowati. Nia kepikir nggak bahwa menyebut valentine di hadapan Karin adalah pamali. Harus dihindari!

“Aku cinta banget sama Randy…”
Karin menahan geram. Pingin banget menyadarkan Nia dengan menyiramkan es jeruk itu, bahwa Randy itu bukan orang yang pantas ditangisin sampai seperti itu.
“Ni… kamu kan tahu Randy jalan sama Linda di belakangmu… Juga sama Sheila… sama Angela… sama…”
“Stoooop…”

“Aku hanya mengingatkanmu betapa panjang daftar cewek si Randy…”
“Tapi Randy bilang lebih menyukai aku daripada mereka…”

Karin menggelengkan kepala. “Sadar dong, Ni… Randy itu cuma main-main sama kamu…!” Karin berkata kesal. Tapi tangannya meraih selembar tisu dari box yang tersedia di atas meja dan menyodorkannya pada sahabatnya itu.
“Iya sih… tapi…”
“Percaya deh sama aku… cowok macam Randy seharusnya dibuang aja ke laut…”
“Tapi…”
“Apa lagi sih?”

Nia menangis lagi. “Aku ga mau jomblo di hari valentine…,” rengeknya.
Karin kesal juga lama kelamaan.
“Ni… aku aja yang setiap tahun jomblo di hari valentine ga ada masalah apa-apa… Ga ada valentine partner dunia ga bakal berakhir…!”
Nia menoyor lengan Karin pelan. “Aku beda sama kamu… Hidupku ga akan bahagia tanpa cinta.”
“Halah… cinta itu ga harus hari valentine kaliii…”

Nia menatap Karin dongkol.
“Oke… aku akan melupakan Randy! Melupakan valentine! Tapi sebagai gantinya, aku pingin menyibukkan diri dengan SESUATU.” Nia berkata mantap dengan penekanan kata ‘sesuatu”.

Karin merasa ada yang tidak beres dengan resolusi Nia. Tak biasanya sahabatnya ini mudah menyerah. Meskipun tahu dirinya salah, Nia biasanya merengek minta dukungan.
“Kenapa aku merasa terancam?”
Nia nyengir, “karena tahun ini aku ingin melihat sahabatku merayakan valentine!”
Gubrak!
***

“Valentine? Gila…! Apa sih yang dipikirkan Nia? Udah tau juga aku ga punya pacar… Kenapa jadi aku yang harus berkorban demi membuat Nia bahagia melupakan valentine-nya??”pikir Karin.

Gadis manis berambut pendek dan asli berpenampilan tomboy itu menatap sekelilingnya. Memasuki bulan Februari seluruh kota seolah berubah warna menjadi pink. Setiap toko dijual baju dan pernak-pernik serba pink. Setiap tempat makan atau café telah dihias sedemikian rupa dengan ornament warna-warni pink. Dari pink tua, pink muda, pink semu, pink ungu… pokoknya pink.

Satu hal yang membuat Karin makin bergidik, sebuah baliho dari sebuah mall bertuliskan “Valentine Soulmate Contest”. Membayangkan pink saja sudah membuat Karin jengah, ditambah soulmate… Hal itu mengingatkannya pada tantangan Nia. Tiba-tiba Karin pusing.

Karin memarkirkan motornya di pelataran parkir bank swasta. Dia butuh mengambil uang di ATM. Dengan sabar dia menunggu seseorang yang berada di dalam box anjungan untuk keluar.

Karin mengamati orang di dalam box kaca itu. Tinggi, tegap… potongannya yang cowok banget membuatnya berdebar. Karin memang tak pernah punya pacar, tapi bukan berarti dia tak punya rasa pada semua makhluk berjenis kelamin cowok. Cowok-cowok itu aja yang tak pernah tertarik padanya.

Karin tanpa sadar berkaca di kaca box ATM. Rambutnya yang cepak, alisnya yang tebal dan bertaut, pakaiannya yang selalu tomboy—kaos hitam dan jeans atau celana gunung, ga ada manis-manisnya… Pantas saja cowok-cowok selalu memilih cewek yang seperti Nia, feminine, suka memakai rok dan bando. Apalagi gaya bicara Nia yang selalu manja… Cowok mana yang tak tersentuh hatinya?

“Ah, tapi… cewek kayak Nia terlalu lemah dan akhirnya jadi korban makhluk playboy seperti Randy!” Lamunan Karin berubah menjadi geraman.
“Udah ngacanya?”

Suara cowok di hadapannya membuat Karin tersentak.
Cowok dalam box ATM itu kini berada di hadapannya. Tampan, tinggi dengan matanya yang cemerlang dan telah membuat banyak cewek jatuh cinta. Randy!

“Randy…”
“Dasar cewek nyentrik! Cewek lain tuh ngaca pake cermin… Eh, kamu ngaca pake box ATM…” Randy tergelak.
Karin merasa wajahnya merah padam.
“Sialan…! Dasar cowok playboy ga berperasaan… Minggir kamu!” Karin mendorong Randy dengan kasar, lalu menerobos masuk ke box ATM.

Karin diam saja ketika Randy mengikutinya masuk.
“Sebenarnya kamu tuh manis juga… Apalagi kalau lagi marah.” Randy berkata santai. Ia bersandar tepat di samping Karin, berdiri dengan cueknya dengan kedua tangan di saku celana.
Karin geram. “Diem kamu, Playboy!” Dia melanjutkan tujuannya semula, mengambil uang tunai.

“Kenapa kamu bilang aku Playboy?”
“Sudah berapa cewek yang kamu sakiti coba? Daftar kamu panjang…! Jauh lebih panjang dari struk ATM!”
“Hey… aku selalu memutuskan mereka baik-baik, Okay?”
“Oh ya? Tapi tanpa menunggu persetujuan mereka kan? Semua keputusan ada di pihak kamu…! Tau-tau kamu udah ngegandeng cewek baru…! Dasar Playboy!” gertak Karin lagi lalu sengaja menabrak tubuh Randy ketika keluar dari box ATM yang memang sempit itu.

“Hmmm…” Randy mengerling. “Tau dari mana?”
“Baruuu aja Nia curhat kamu duain dia terang-terangan….” Karin melangkah menuju ke arah motornya diparkir. “Apa sih yang bisa bikin kamu berhenti jadi makhluk Playboy?”
“Kamu ingin tahu?”

Karin mendongak, menatap Randy dengan tatapan menantang.
“Okay… aku akan berhenti asal kamu jadi pasangan valentine aku tanggal 14 Februari nanti.”
“What??!”
“Kamu kan pembela mereka… Kalau kamu ingin aku berhenti bermain-main dengan mereka, setujui syaratku. Gampang kan?” Randy meninggalkan Karin menuju motornya sendiri.

Karin terbengong-bengong di tempat.
Ketika membawa motornya pergi, Randy melewati Karin sekali lagi. “Gimana?”
Karin geram. Tanpa pikir panjang dia menyahut ketus. “Siapa takut!”
***

Dilema. Karin benar-benar bingung. Dia kini sibuk mengutuki dirinya habis-habisan karena menyanggupi tantangan Randy. Masalahnya bukan karena tantangan itu. Tapi Randy. Seisi dunia juga tahu kalau cowok itu masih pacar Nia. Sahabatnya. Orang yang selama ini selalu baik padanya, yang selalu dibujuknya untuk meninggalkan Randy. Tapi sekarang apa? Dia yang malah memerangkapkan dirinya ke dalam jebakan Randy. Menyerahkan diri diatas altar untuk menjadi tumbal.

Benar-benar dungu, rutuk Karin pada dirinya.
Memang ini hanya persyaratan Randy, agar tak lagi jadi playboy. Tapi siapa peduli?.Bagaimana kalau ini hanya akal-akalan Randy? Bagaimana kalau dia malah naksir Randy? Kemarin Nia memang menantangnya untuk merayakan valentine. Tapi yang pasti bukan dengan Randy.

Nia masih waras. Dia akan murka jika tahu permainan Karin dibelakangnya. Dasar pengkhianat!
Dan benar saja. Setelah dua kali pertemuan, yang dilakukan tanpa sepengetahuan Nia, Karin merasa tertarik pada cowok jangkung itu. Randy memang magnetis. Sebagai cowok dia punya sejuta pesona yang bisa membuat cewek manapun lupa, kalau mereka bukan boneka. Tampan, atletis dan tajir. Apalagi? Tak heran dengan semua atribut yang disandangnya Randy bisa berganti pacar setiap minggu. Semudah dia membeli sepatu di Distro. Dari yang lembut seperti Nia, sampai yang tomboy seperti Karin sukses masuk kedalam perangkapnya. Amazing!

Dulu Karin sering mengejek Nia. Penghamba Cinta, julukan yang kerap disematkannya pada Nia. Tapi sekarang apa? Lovacholic itu kini melandanya. Membuatnya mabuk hingga lupa, kalau Randy punya sejuta chance untuk membuatnya terluka, jika dia menggantungkan harapan terlalu tinggi. Tapi Karin sepertinya tak peduli. Bahkan sepertinya kini dia sudah lupa, kalau Randy masih kekasih Nia.
***

Malam ini Karin sudah rapi. Seperti jutaan gadis remaja di belahan bumi lain, dia pun merayakannya. Hari kasih sayang. Valentine emang dahsyat. Dalam sekejap ia mampu merubah sosok Karin yang amburadul menjadi lebih beradab. Rambutnya memang mash pendek tapi sudah dipotong dengan model yang lebih manis. T-Shirt dan jeans yang dulu menjadi pakaian kebesarannya, malam ini sudah berganti menjadi mini dress berwarna lembut. Dan Nia-lah orang yang membuat penampilan Karin beda. Nia begitu surprised ketika mendengar sahabatnya yang ‘anti cowok’ itu mau merayakan valentine.

“Really?” hampir keluar bola mata Nia mendengar Karin akan segera ngedate.
Karin hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Diam-diam ada rasa berdosa menyelusup dalam hatinya. Tahukah Nia, siapa yang menjadi valentine-nya nanti?
“Ayo! Kita nggak punya banyak waktu. Kamu harus segera di make-over!”

Mulailah mereka bergerilya. Dari masuk salon sampai mengunjungi beberapa butik mereka lakukan. Nia begitu tulus dan sabar meladeni Karin. Kini Karin baru sadar kalau dia adalah penghianat. Jatuh cinta pada cowok sahabatnya sendiri. Ada perasaan bersalah dalam hatinya. Tapi sudah terlanjur. Cinta memang selalu buta.

“A-apa kamu nggak merayakan valentine sama... Randy?” kegugupan Karin terpeta jelas disana. Kalau Nia jeli, betapa pucatnya wajah Karin ketika menanyakan itu.
Nia menggeleng. “Aku dan Randy sepakat, nggak ada malam valentine kali ini.”
Duh, kalau saja Nia tahu...
***

Tepat pukul tujuh Randy menjemputnya di rumah.
Ketika pamit, seantero warga rumah pangling melihat perubahan Karin. Mama, Papa dan Neo terpana. Yang paling heboh siapa lagi kalau buka Neo. Adik Karin yang baru kelas satu SMP itu sampai tak berkedip melihat penampilan Karin.

“Wuih! Rapi amat? Mau nonton layar tancap dimana, Kak?” godanya sambil terkikik.
Yang terpana bukan hanya orang rumah. Randy juga.
“Kamu cantik banget malam ini,” ucapnya, sambil menatap mata Karin dengan mesra.

Karin tersipu malu mendengarnya.
Apa seperti ini perlakuan Randy pada semua cewek yang menjadi kencannya? Selalu manis? Tapi Karin tak punya waktu untuk memikirkan itu. Karena selanjutnya dia terhipnotis pada perlakuan Randy. Gayanya. Sikapnya. Tutur katannya. Randy benar-benar gallant.

Lihat saja! Ketika mereka ngobrol, di sela-sela makan, mata Randy tak pernah lepas menatap matanya selama bicara. Karin tak menyangka kalau ternyata Randy bisa segentle itu. Cowok itu tak cuma tampan tapi juga memesona. Tak ada kesan tengil apalagi playboy disana. Atau, apa Karin yang telah buta?

Di dalam bioskop, ketika film sedang seru-serunya, tangan Randy menggenggam erat jemari Karin dengan hangat. Melingkarkan tangannya pada bahu Karin, lembut. Karin melayang. Melambung. Diam-diam dia menitip harap setelah ini. Karin lupa, kalau ini hanya untuk sementara. Lupa kalau dia membawa misi perdamaian dunia. Agar tak ada lagi cewek cewek yang terluka karena Randy.

Sampai mereka pulang, Randy memang tak berkata apapun mengenai kelanjutan ‘hubungan’ mereka, selain ucapan terima kasih dan seuntai senyum menawan pada Karin. Tapi Karin yakin, kalau Randy akan menyatakan cinta padanya suatu hari nanti.
***

Besoknya di sekolah, Nia sudah menunggu Karin di pintu kelas.“Bagaimana? Sukses valentinenya?”
Karin tak menanggapi pertanyaan Nia. Dia malah ngeloyor masuk sambil tersenyum lebar. Membuat Nia tambah penasaran.

“Lho, kok malah senyum?” tanya Nia heran. “Cowok itu menciummu?”
Karin melotot. Sorot matanya berbinar. Sekarang dia tahu, seperti apa rasanya jatuh cinta itu. “Dia benar-benar romantis,” pekiknya, tertahan.

“So sweet! Trus, kalian kemana, aja? Ngapain, aja?”
“Malam itu kami...”
Karin tak sempat meneruskan kalimatnya. Ponsel Nia tiba-tiba berbunyi. Call dari Randy.

Setelah beberapa menit bicara, Nia kemudian menutup telponnya.“Karin, aku juga punya kabar bahagia! Randy mengajakku dinner ntar malam. Dan dia juga berjanji nggak akan bikin aku nangis lagi,” cerita Nia separo histeris.

Tubuh Karin membeku. Dunia seperti berhenti berputar. Asa itu perlahan sirna dari hatinya. Dia tahu ini akan terjadi. Tapi tidak secepat ini.

Melihat senyum kebahagiaan Nia dia tahu kalau dirinya pecundang. Diam-diam Karin membatin sedih. Dia memang tak akan membuatmu menangis lagi, Nia. Karena sekarang akulah yang dibuatnya menangis.

*** Selesai ***

Thursday, December 1, 2011

[ARTIKEL TIM INTERNASIONAL] Babu Juga Bisa Menulis

Nessa Kartika

Nessa Kartika: Babu Juga Bisa Menulis
By. Ari Trismana

Terlahir dengan nama Anissa Hanifa, 27 Mei 1983 di Kota Wonosobo, Jawa Tengah. Putri sulung dari pasangan M. Hatru dan Siti Mariam ini, sedari kecil telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena bercerai. Semasa bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 1 Wonosobo, dan SLTP Muhammadiyah 1 Wonosobo sering terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba mengarang dan beberapa kali berhasil meraih juara.

Kegemarannya menulis ia lanjutkan saat masuk SMK Negeri 1 Wonosobo.  Karya-karyanya berupa cerpen diterbitkan rutin di majalah sekolahnya. Setelah lulus SMK tahun 2002 ia sempat berkerja di pabrik garmen di Bandung, Jawa Barat. Hingga akhirnya pada tahun 2003 gadis asal  Dukuh Pasunten Desa Lipursari Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo ini memutuskan untuk berkerja ke Hongkong. Nessa berangkat ke Hongkong melalui sebuah PJTKI. Setelah tiga bulan di penampungan Cengkareng, Jakarta, ia berangkat bulan agustus.

Namun di Hongkong, ia tak bernasib baik. Nessa sempat menjadi korban kekerasan dari majikannya yang kerap memukulinya. “Baru kerja 15 bulan, tepatnya bulan mei 2004, saya minta pulang. Karena bos saya usahanya bangkrut sehingga stress dan sering mukulin istrinya dan saya,” terang gadis yang akrab disapa Anik ini.

Selepas dari Hongkong, Nessa kembali ke kampung halamannya di Wonosobo. Di Wonosobo Nessa bekerja di sebuah stasiun radio swasta Nawa Kartika FM. Disitulah ia memiliki nama udara “Nessa Kartika.”  Nama Nessa Kartika inilah yang lebih banyak dikenal oleh rekan-rekan dan kenalannya hingga saat ini. Di tahun 2004 pula Nessa memutuskan menikah dengan Wahidun dan tahun berikutnya melahirkan seorang putra yang diberi nama Muhammad Axl Satriaji Wahid. Tetapi karena berbagai pertimbangan dan seijin suami, meski berat baginya, akhirnya pada tahun 2007 Nessa memutuskan kembali menjadi TKI. Kali ini ia memilih Singapura melalui sebuah PJTKI di Karangayu, Semarang.

Beruntung baginya, di Singapura ia mendapatkan majikan yang baik. Saat senggang setelah kerja utamanya menjaga orang jompo selesai, Nessa diijinkan menggunakan komputer sang majikan untuk keperluan menulis dan membaca berbagai artikel di internet.
“Tugas saya menjaga seorang kakek, biasanya setelah semua kebutuhan kakek terpenuhi, dia banyak istirahat. Saat itulah kesempatan saya untuk memanfaatkan internet” ungkap pemilik blog www.nessakartika.blogspot.com ini.

Dari Facebook Hingga Ubud Writers and Readers Festival
Awalnya Facebook digunakannya untuk berkomunikasi dengan keluarga, suami serta anaknya. “Dari FB, ternyata punya banyak kenalan dan akhirnya terdorong untuk berlatih menulis secara lebih serius. Gurunya adalah semua kawan FB yang biasa menulis. Kadang-kadang menulis buat dibaca sendiri atau buat lomba dan beberapa kali menang lomba,” demikian Nessa menjelaskan peran FB baginya.

Nessa juga sangat rajin  mencari informasi yang berhubungan dengan lomba menulis, karena ia meyakini bahwa keikutsertaan dalam suatu ajang lomba akan mampu mengasah kemampuannya. Melalui dunia maya, Nessa juga berupaya memajukan kemampuan menulis, salah satunya dengan cara bergabung di group “Untuk Sahabat”di Facebook. “Di forum itu, banyak penulis top yang rendah hati dan mau berbagi kepada penulis pemula yang sedang belajar. Grup ini dibuat oleh Abang Dang Aji Sidik dari Surabaya,” papar Nessa.

Semasa bekerja di Singapura, Nessa tidak hanya mengembangkan kemampuan menulisnya untuk diri sendiri. Didukung KBRI di Singapura Nessa membuka semacam “hotline” melalui surat baik secara konvensional maupun melalui elektronik mail.  “Lewat cara itu secara tidak langsung sebenarnya mendorong kawan-kawan buruh migran belajar mengungkapkan pengalamannya lewat tulisan. Sayangnya kawan-kawan belum banyak yang menanggapi,” ungkapnya menyesal.
Meski kesulitan selalu saja ada, namun Nessa terus membuktikan bahwa ketekunannya pasti akan berbuah keberhasilan. Pada bulan juli 2011 Nessa mengikuti lomba cerpen Bilik Sastra yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Voice of Indonesia.
“Alhamdulilah dilomba itu karya saya menjadi pemenang kedua,” katanya gembira.
“Hadiah dari lomba itu saya mendapat tiket pulang pergi Singapura – Jakarta dan akomodasi selama 4 hari 3 malam untuk menghadiri sidang bersama Dewan Perwakilan Daerah dan DPR RI 16 Agustus 2011, serta menjadi tamu undangan di upacara bendera 17 agustus 2011 di Istana Merdeka,” lanjutnya dengan bangga.

Tak berhenti sampai disitu saja, kepiawaian menulis perempuan cantik yang tak malu disebut babu ini, terus membawanya pada pengalaman-pengalaman besar yang tak mudah dimiliki oleh banyak orang. Bersama puluhan penulis terkenal dari dalam dan luar negeri, Nessa berkesempatan menjadi peserta di Ubud Writers and Readers Festival 5-9 Oktober 2011 di Ubud, Bali.
“Saya tak menduga dapat undangan untuk acara itu. Saya ini cuma babu. Babu yang juga bisa menulis,”  ungkapnya terus terang. “Bisa ketemu dengan penulis-penulis terkenal rasanya seperti mimpi,” sambungnya.
Baginya bertemu dengan banyak orang adalah kesempatan untuk menceritakan bermacam pengalaman menjadi TKI. “Saya berharap akan semakin banyak orang yang perhatian dengan persoalan nasib buruh migran,” ungkapnya dengan serius.

BNP2TKI bahkan menobatkan Nessa Kartika sebagai “Pahlawan Devisa Penulis Cerpen” Saat penobatan, Nessa berkesempatan bertemu dengan Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat. Dalam kesempatan tersebut tak lupa Nessa menyampaikan pentingnya perhatian serius terhadap nasib buruh migran dan keluarganya.
“Saya ceritakan hal-hal pahit yang dialami buruh migran, saya tahu cerita saya saat itu didengar bahkan dicatat, tapi saya tak tahu apakah ada langkah nyata yang dijalankan untuk bantu merubah nasib buruh migran,” sambil tertawa Nessa menjelaskan.

Tetap Ingin Jadi TKI dan Penulis
Saat ini meski Nessa menjalani hari-harinya dengan tenang bersama suami dan anaknya di Wonosobo, tetapi ia masih berharap suatu hari nanti ia dapat kembali bekerja ke luar negeri.
“Bagi saya kerja ke luar negeri bukan semata-mata cari uang. Tugas menulis saya belum selesai. Saya ingin terus menuliskan pengalaman-pengalaman buruh migran agar diketahui lebih banyak orang lagi” ungkap Nessa yang saat ini menjadi penyiar di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Pesona FM, Wonosobo.

Nessa memiliki harapan bahwa suatu saat nanti menulis dapat dijadikan sarana oleh buruh migran untuk mengungkapkan pengalaman sehingga dapat diketahui oleh banyak orang.
“Menulis, apapun bentuknya dapat dijadikan seperti senjata. Orang lain dapat mengetahui persoalan kita lewat tulisan. Orang lain juga mungkin bisa memberikan dukungan setelah membaca tulisan kita. Karena itulah saya harap kawan-kawan buruh migran tidak malu dan tidak takut menulis,” demikian pesan Nessa untuk buruh migran Indonesia.

* * * * *