About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Wednesday, December 22, 2021

#Puisi IBU, AKU MANUSIA

(Ditulis dalam rangka memperingati #InternationalMigrantDay Tahun 2021)
Oleh Nessa Kartika

I.
Seorang gadis berkerudung merah muda
Tamat SMA dibawa ibunya ke Jakarta
"Mencari pengalaman," katanya.
Ibunya baru pulang dari negeri sana, terlihat bersinar, cantik dan semulus piring keramik di rumahnya 
Yang tanpa jendela

Diajak naik bus Sinar Jaya jam tujuh malam, 
Tiba di ibukota selepas subuh
Badan penat, tak ingin mengeluh
Tak terlihat lusuh
Hanya membawa sepasang baju dan satu mukenah

Di sebuah rumah, disambut oleh seorang mami
Diterima dengan senang hati,

Lalu ibunya pergi
Bingung ia ketika kehidupan training yang keras dan penuh caci maki dimulai
Baru disadari sang ibu telah menjualnya untuk dikirim jadi pekerja migran ke luar negeri.

Malang tak dapat ditolak
Nasi sudah menjadi bubur
Ia bercita-cita ingin memperbaiki nasib keluarganya.

II.
Di tarmak bandara yang riuh
Si gadis berambut bondol menenteng tasnya
Berdebar ia berjalan melewati petugas yang tersenyum ramah, selamat pagi

Akhirnya...
Tiba saatnya ia menuju tanah seberang
Mencari pengalaman, kata ibunya.
Memperbaiki rumah kita yang hampir roboh.
Uangmu harus dikirim ke ibu, biar ibu yang kelola.
Jadi pekerja migran cara paling cepat mengumpulkan uang.

Singapura,
Masih gelap dalam bayangannya

Mengucap bismillah, ia mengikuti langkah manusia-manusia di depannya
Gate tiga puluh dua huruf Bhe
Pesawat berwarna merah menjadi angkutannya.

Satu jam dua jam tibalah ia
Tiga jam empat jam menunggu jemputannya
Lima jam enam jam ia tahan rasa lapar dan haus

Di bawah lampu hiasan natal berwarna warni, desain futuristik dan mewah
Ia tak paham lagi dengan masa depannya sendiri
Merasa lelah, merasa payah
Terlalu berharap dan berekspektasi

Dia tidak sendiri
Belasan gadis calon pekerja migran sepertinya pun nasibnya tak pasti
Terlantar di bandara, tanpa satu hal pun mereka mengerti

Menunggu dan menunggu
Satu persatu dijemput
Menunggu dan menunggu
Si gadis ingin menangis

III.
Sebuah van berisi tujuh diisi dua puluh, bertumpuk seperti sardin
Dua puluh pekerja migran dari Indonesia, senasib sependeritaan

Si gadis yang takjub dengan pemandangan di luar
Singapura sunguh indahnya
Ratusan gedung pencakar langit sepanjang perjalanan
Entah kemana

Ternyata mereka dibawa ke sebuah asrama
Disuruh masuk dan dipanggil monyet!

Monyet indo!
Diberitahu untuk istirahat  karena besok ada medical check up
dan malam ini juga harus belajar untuk entry test

Si gadis menurut walau sakit hati, memilih satu katil untuk membaringkan diri
Yang penting akhirnya ia bisa menangis diam-diam malam ini.

Lagu milik peterpan mengalun dari arah dapur,
Dimana ibu asrama sedang menanak nasi dicampur potongan buncis, jagung dan kecap asin
Menu makan malam

Paginya, medical check up adalah siksaan
Kencing tanpa privacy
Dijejerkan dan dibolak balik bugil tanpa busana
Para monyet indo, dianggap bukan manusia.

Sekeras inikah ujian untuk orang yang mau mencari pengalaman?
Seperti inikah manusia bangsa sendiri diperlakukan?
Seperti inikah kehidupan pekerja migran??

IV.
Tuhan bersama orang-orang sabar
Dua tahun berlalu, diperpanjang
Tambah dua tahun lagi penuh kebahagiaan
Majikan ternyata manusia biasa yang jauh mempunyai hati nurani daripada bangsa sendiri di negeri orang

Kini si gadis sudah mau pulang, majikan ingin ia memperpanjang
Ia tak mau
Karena sang ibu bilang uang yang ia kirimkan sudah jadi barang
"Lihatlah kambing-kambing gemuk ini," kata ibu ketika mengirimkan sebuah foto, "semua milikmu."
Dikirim pula gambar sebuah rumah setengah jadi, masih batu bata namun sudah berjendela, "rumahmu," kata Ibu pula.
Dikirim pula foto sebidang tanah, untuknya, dibeli ibunya memakai uangnya.

Ibu merayunya jangan pulang, rumahnya belum selesai.
Kurang... Kurang... Kurang....
Tidak, ia sudah lelah menjadi pekerja migran.
Ia ingin kuliah.
Ibu, aku ingin pulang, aku bukan mesin ATM.

Akhirnya ia pulang
Namun kekecewaan yang didapatkan
Kambing-kambing milik tetangga
Rumah milik saudara
Dan tanah milik siapa.

Apa yang ia dapatkan?
Ayah tiri baru.
"Uangmu habis dimakan," kata ibunya.

Serta pengalaman, menjadi dewasa sebelum waktunya.
Dimatangkan oleh negeri tetangga.
Menjadi pekerja migran yang luar biasa walau pulang tak punya apa-apa

Gusti mboten sare
Allah tidak tidur

---Desember 2021

Sunday, December 19, 2021

#cerpen LELAKI BERHATI NYAMAN

Di sisi telaga berkabut awal musim gugur
Setengah dari kita tertawa, terpesona oleh perjalanan menuju bintang
Sedikit aku dan keakuan, tidak berkeinginan

Ada sedikit cerita yang kita akan bawa
Berasal dari masing masing rumah yang kita tinggalkan
Menjadi ode kesepian
Kita tutupi dengan membawa perasaan

Aku tak menyangka jatuh nyaman dalam dua hari pertemuan
Setelah merangkum segala kebaikan
Namun, lika likunya, bukan padaku hatimu bergemuruh
Dan rasa entah... meluruh

Kamu, lakilaki berhati nyaman
Tempat sejenak ku meneduh, menyandarkan bahu
Kau usap peluhku, mengerti akan lelahku
Seperti aku mengerti rasamu tak jauh, 
Namun keakuanmu, jiwaragamu untuk dia saja
Yang meremukkan hatiku menjadi keping

Kamu
: Tetaplah menjadi lelaki berhati nyaman
Mengubah gundahku, menjadi kebaikan.

1x1
"Harusnya aku yg di sana..."

Thursday, December 16, 2021

#cerpen CAHAYA part 1

Oleh. Nessa Kartika

Kinan mengenalnya ketika pertama bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Jalan berdebu setelah kemarau panjang. Belokan dan tikungan membuat isi perutnya serasa ingin berhamburan.

"Ibu, pusing," kata ibunya.
Sementara Pak Har di jok belakang hanya diam.

Mobil carry terus membelah jalan aspal rusak menuju desa Kasihan. Samping kanan kiri bergantian kebun salak, kopi dan albasia. Sudah setengah jam kami digoncang kesana kemari.

"Masih jauhkah?" Mas Toro sang supir mulai meyesali medan.
Kinan yang pernah ke daerah sini dengan motor lupa-lupa ingat, "sepertinya satu desa lagi... Paling parah jalan sebelum lapangan dan sampailah."

"Byuhh... Jauh sekali. Kalau dapat istri orang sini bagaimana?" Boss Yadi yang duduk sebelah sopir mencolek Mas Toro.
"Aku nggak mau," jawab Mas Toro.
Semua tergelak, sekejap lupa bahwa mereka sedang pada mabuk darat.

Benar saja, di depan mereka jalan susah dilewati. Sebuah lapangan bola di bawah bahu jalan. Seluas mata memandang view gunung dieng memanjakan mata.

Dan di atasnya, desa Kasihan twrpampang seperti desa-desa di film Korea. Bedanya bukan salju yang ada di atap-atapnya, tapi debu musim kemarau.

"Tinggal cari rumah lurahnya," kata Bos Yadi.
"Kades, boss... Ini desa, bukan kelurahan." Pak Har meralat.
"Nanti kita tanya orang," jawabku.

Ternyata rumah kades di dekat situ, sayangnya orangnya tidak di rumah. Sedang pergi ke kecamatan dan mereka hanya bertemu istrinya. Wanita sederhana saja.

***

#puisi IBU, AKU MANUSIA


Oleh Nessa Kartika

I.
Seorang gadis berkerudung merah muda
Tamat SMA dibawa ibunya ke Jakarta
"Mencari pengalaman," katanya.
Ibunya baru pulang dari negeri sana, terlihat bersinar, cantik dan semulus piring keramik di rumahnya 
Yang tanpa jendela

Diajak naik bus Sinar Jaya jam tujuh malam, 
Tiba di ibukota selepas subuh
Badan penat, tak ingin mengeluh
Tak terlihat lusuh
Hanya membawa sepasang baju dan satu mukenah

Di sebuah rumah, disambut oleh seorang mami
Diterima dengan senang hati,

Lalu ibunya pergi
Bingung ia ketika kehidupan training yang keras dan penuh caci maki dimulai
Baru disadari sang ibu telah menjualnya untuk dikirim jadi pekerja migran ke luar negeri.

Malang tak dapat ditolak
Nasi sudah menjadi bubur
Ia bercita-cita ingin memperbaiki nasib keluarganya.

II.
Di tarmak bandara yang riuh
Si gadis berambut bondol menenteng tasnya
Berdebar ia berjalan melewati petugas yang tersenyum ramah, selamat pagi

Akhirnya...
Tiba saatnya ia menuju tanah seberang
Mencari pengalaman, kata ibunya.
Memperbaiki rumah kita yang hampir roboh.
Uangmu harus dikirim ke ibu, biar ibu yang kelola.
Jadi pekerja migran cara paling cepat mengumpulkan uang.

Singapura,
Masih gelap dalam bayangannya

Mengucap bismillah, ia mengikuti langkah manusia-manusia di depannya
Gate tiga puluh dua huruf Bhe
Pesawat berwarna merah menjadi angkutannya.

Satu jam dua jam tibalah ia
Tiga jam empat jam menunggu jemputannya
Lima jam enam jam ia tahan rasa lapar dan haus

Di bawah lampu hiasan natal berwarna warni, desain futuristik dan mewah
Ia tak paham lagi dengan masa depannya sendiri
Merasa lelah, merasa payah
Terlalu berharap dan berekspektasi

Dia tidak sendiri
Belasan gadis calon pekerja migran sepertinya pun nasibnya tak pasti
Terlantar di bandara, tanpa satu hal pun mereka mengerti

Menunggu dan menunggu
Satu persatu dijemput
Menunggu dan menunggu
Si gadis ingin menangis

III.
Sebuah van berisi tujuh diisi dua puluh, bertumpuk seperti sardin
Dua puluh pekerja migran dari Indonesia, senasib sependeritaan

Si gadis yang takjub dengan pemandangan di luar
Singapura sunguh indahnya
Ratusan gedung pencakar langit sepanjang perjalanan
Entah kemana

Ternyata mereka dibawa ke sebuah asrama
Disuruh masuk dan dipanggil monyet!

Monyet indo!
Diberitahu untuk istirahat  karena besok ada medical check up
dan malam ini juga harus belajar untuk entry test

Si gadis menurut walau sakit hati, memilih satu katil untuk membaringkan diri
Yang penting akhirnya ia bisa menangis diam-diam malam ini.

Lagu milik peterpan mengalun dari arah dapur,
Dimana ibu asrama sedang menanak nasi dicampur potongan buncis, jagung dan kecap asin
Menu makan malam

Paginya, medical check up adalah siksaan
Kencing tanpa privacy
Dijejerkan dan dibolak balik bugil tanpa busana
Para monyet indo, dianggap bukan manusia.

Sekeras inikah ujian untuk orang yang mau mencari pengalaman?
Seperti inikah manusia bangsa sendiri diperlakukan?
Seperti inikah kehidupan pekerja migran??

IV.
Tuhan bersama orang-orang sabar
Dua tahun berlalu, diperpanjang
Tambah dua tahun lagi penuh kebahagiaan
Majikan ternyata manusia biasa yang jauh mempunyai hati nurani daripada bangsa sendiri di negeri orang

Kini si gadis sudah mau pulang, majikan ingin ia memperpanjang
Ia tak mau
Karena sang ibu bilang uang yang ia kirimkan sudah jadi barang
"Lihatlah kambing-kambing gemuk ini," kata ibu ketika mengirimkan sebuah foto, "semua milikmu."
Dikirim pula gambar sebuah rumah setengah jadi, masih batu bata namun sudah berjendela, "rumahmu," kata Ibu pula.
Dikirim pula foto sebidang tanah, untuknya, dibeli ibunya memakai uangnya.

Ibu merayunya jangan pulang, rumahnya belum selesai.
Kurang... Kurang... Kurang....
Tidak, ia sudah lelah menjadi pekerja migran.
Ia ingin kuliah.
Ibu, aku ingin pulang, aku bukan mesin ATM.

Akhirnya ia pulang
Namun kekecewaan yang didapatkan
Kambing-kambing milik tetangga
Rumah milik saudara
Dan tanah milik siapa.

Apa yang ia dapatkan?
Ayah tiri baru.
"Uangmu habis dimakan," kata ibunya.

Serta pengalaman, menjadi dewasa sebelum waktunya.
Dimatangkan oleh negeri tetangga.
Menjadi pekerja migran yang luar biasa walau pulang tak punya apa-apa

Gusti mboten sare
Allah tidak tidur

---Desember 2021

Tuesday, December 14, 2021

#CERPEN NATAL DAN SALJU BAUHINIA (part 1)

Udara begitu dingin dan renyah. Nafasku berubah menjadi awan kecil, begitupun dengan orang-orang yang berjalan cepat di sekelilingku. Aku harus sedikit mendaki bukit mencapai gerbang entry menuju stasiun kereta api bawah tanah. 

Langkahku melewati sebuah taman berisi pepohonan yang daun-daunnya sudah berguguran. Seperti sepotong hatiku yang kutinggalkan di Indonesia, untuk seorang laki-laki yang bahkan tak pernah lagi kupikirkan di sini.

Isi hatiku sepi dan sedingin tempat ini. Tidak berharap juga tidak menyerah. Biasa saja.

Aku berjalan di lorong panjang menuju kereta tergesa, layaknya semua manusia di sana. Dua eskalator menurun lagi dan aku mendapati gerbong kereta jam setengah dua belas menuju Chai Wan.

Semakin aku ke bawah tanah, udara dingin menusuk tulang digantikan udara hangat sedikit pengap. Aku nerapatkan jaketku.  

Tiba di peron yang kutuju, aku berjalan ke gerbong belakang. Kereta tiba semenit lagi. Pintu belum dibuka, aku nenunggu dengan sabar di sisi kanan. Sisi kiri digunakan oleh penumpang yang nanti keluar, biasanya tak banyak di ujung gerbong ini.

Aku memilih gerbong paling ujung karena sepi. Aku bisa tidur sepuas hati. Apalagi Chai Wan terletak di ujubg pulau, jika pun aku terlelap, masinis yang berbalik akan membangunkanku. Kereta cepat ini punya dua kepala, masinis tinggal menuju ekor jika mau membalikkan arah kereta. Praktis.

Denting lagu natal terdengar meriah, suasana peron sudah didekorasi sedemikian rupa. Aku menatap jam digital di atasku yang berganti angka 11.30 ketika akhirnya kereta tiba.

***

Desir hati terasa ketika melewati gedung-gedung kawasan industri. Di sini tidak meriah seperti Kow Loon. Rumah susun kuno berderet dan bangunan kumuh milik nelayan dimana-mana.

Di sisi kananku verjalan menuju gudang Kingsly bebatuan pantai, dimana jika aku lelah aku akan berhenti sejenak duduk di sana. Hanya ini waktu luangku, pun terbatas lima sampai sepuluh menit saja. Kalau kelamaan Kingsly pasti marah-marah karena aku terlambat.

Kingsly mempunyai sebuah kantor perusahaan catering dan dapur raksasa. Para chef bekerja sepanjang pagi, Orang-orang belajar memasak di sore dan malam hari. Aku punya waktu dua jam selepas jam makan siang untuk bersih-bersih setiap harinya sebelum kelas dimulai lagi.

Jangan bayangkan alat rumah tangga di sini. Tempat ini seperti laboratorium alien dengan segala alat dan mesin berbahan stainless steel yang harus kugosok dan kucuci sampai mengkilat.

Tidak ada belas kasihan, dari langit-langit sampai dinding dan lantai semua harus kucuci. Tidak ada gunanya semua training kerja rumah tangga waktu di penampungan, disini aku robot pembersih baja anti karat. Waktuku hanya dua jam saja.

Lalu Kingsly akan membawaku makan siang di sebuah warung au lam mien sebelum aku pulang lagi dengan kereta. Kingsly akan pulang dengan mobilnya.

Tidak mungkin majikanku ini mengajakku ikut mobilnya, badanku sangat kotor tentu saja setelah mencuci semua minyak dan debu.

Justru aku menikmati betul trip ini. Di jalan aku akan mampir ke 7/11 untuk membeli potato chip, air mineral dan buah-buahan. Duduk di pantai atau stasiun menunggu kereta, lalu aku mencari telepon umum, mencari ayah atau ibuku melalui wartel terdekat untuk berbincang. Satu dua koin sen dolar sudah cukup untuk menuntaskan kerinduanku. Hidup sesederhana itu.

Aku kembali ke Kwun Tong, menuju rumah nenek. Nanti malam baru kami akan dijemput pulang ke Lam Tin. 

***