Separuh malam bulan baru
Terpaku pada waktu, kelu
Seribu satu tanya menyatu
Apa yang terjadi padaku?
Tanya tak cukup bercerita isi jiwa
Menyerukan rasa yg bukan kupunya
Tak jauh hirau
Gagu
Separuh malam bulan baru
Terpaku pada waktu, kelu
Seribu satu tanya menyatu
Apa yang terjadi padaku?
Tanya tak cukup bercerita isi jiwa
Menyerukan rasa yg bukan kupunya
Tak jauh hirau
Gagu
I.
Ay,
apa kabarmu?
Inboxmu semakin terdesak
Terlupakan
Sejak senja itu
: Tak ada balasan
II.
Ay,
Aku menuliskan puisi untukmu
Namun angin membawanya
Menderu
: Pergi
III.
Ay,
Lihat aku
Di puncak tertinggiku
Setelah tanpa lelah
Kau menata tangga demi tangga
Tempatku berpijak
Namun
: Hampa
Kau tak di sana
Membuka tanganmu untuk memelukku
IV.
Ay,
Aku rindu
Apa yang ada di pikiranmu?
Last march, 2017
Jika waktu itu matahari, aku ingin esok kau hadir kembali
Jika waktu itu matahari, aku ingin percaya semua janji
Jika waktu itu matahari, aku ingin mendengar cerita kehilangan yang kesekian
Jika waktu itu matahari, aku ingin secuil penjelasan, bukan penyesalan
Tapi...
Waktu bukan matahari, sudah terbenam dan tak terkubur dalam, seperti kau yang telah jauh dan pergi
Waktu bukan matahari, membakar janji untuk selamanya ada, sementara janjiku untuk tak mempertanyakan kepergianmu bagaimanapun inginnya aku
Waktu bukan matahari, tak ada cerita, hanya menduga diserta rindu yang teramat dalam, entah akan dikemanakan...
Waktu bukan matahari, selalu ada namun tak dapat diulang, selalu berdoa namun tak mampu mendamba
Hanya berharap
: Baik-baiklah kau disana
#Ay
Suatu hari saat sedang rias pengantin di pinggiran Wonosobo, aku bersama temanku, tak usahlah aku sebut namanya, sebut saja mbak Bunga. Perias juga, selain itu dia orang kesenian, umur 3-4 tahun di atasku.
Sambil make up muka orang dia curhat tentang suaminya (Pak X) yang notabene adalah suami orang sedang galau.
"Galau kenapa, mbak?"
"Istrinya pulang dari Hongkong, Pak X sedang mencari waktu untuk terus terang soal hubungan kami."
Whattt??
Serius aku seperti shock, ada sedikit sakit hati. Walau aku bukan teman Mrs X, menjadi teman Mbak Bunga tidak membuatku mendukung beberapa hal, apalagi ini.
Mbak Bunga dan Mr X sama-sama seniman, dipertemukan di panggung. Namun kepergian Mrs X ke luar negeri pasti bukan tanpa alasan, aku yakin benar awalnya motif ekonomi. Hal ini tidak membuat aku nyaman. Cinta lokasi atau kesepian bukan alasan untuk mengkhianati istri. Apalagi istri yang adalah TKW.
Sebagai seorang konselor BMI/TKI/TKW aku ikut sakit hati. Sekali lagi aku bilang, posisiku sebagai teman Mbak Bunga tidak membuatku mendukung ini.
Sekitar 2 tahun yang lalu ketika mbak Bunga berbinar-binar bercerita tentang Mr X aku ikut senang, namun ketika mendengar latar belakang Mr X yang adalah suami orang dengan dua anak yang sudah remaja, ditambah istrinya adalah seorang buruh migran, aku miris.
Aku tidak menyalahkan cinta, bisa jatuh pada siapa saja.
"Aku cuma pinjam, mbak Nessa. Selama aku berhubungan sama Mr X, tidak ada niat sama sekali agar ia bercerai dan sebagainya. Aku sadar dia suami orang." Mbak Bunga melanjutkan ceritanya.
Aku terbawa perasaan. Aku juga bersuami, jika suatu saat (amit-amit) terjadi suamiku diambil orang, bagaimana?
Kata-kata pinjam itu apakah suatu pembenaran? Seolah 'suami' itu barang.
Walaupun untuk kasus seperti ini Mr X pasti bukan satu-satunya di dunia. Sudah banyak terjadi. Tingkat perceraian yang tinggi di Wonosobo juga mayoritas penyebabnya karena suami/istri bekerja di luar negeri.
Reaksi Mrs X jelas saja ngamuk. Mbak Bunga menceritakannya padaku beberapa hari kemudian.
"Sepertinya Mr X berat memilihku, padahal aku tidak berharap ."
Satu keluarga lagi retak. Dua orang anak jadi korban. Satu orang TKI jadi single parrent, dan akan kembali ke luar negeri lagi untuk bekerja mati-matian menafkahi anak. Daur kehidupan yang menguras emosi. Klise, terjadi dimana-mana pada banyak teman BMI.
Apakah tidak ada cara mencegahnya? Agar tak ada lagi TKI yang jadi sapi perah, tidak dianggap manusia.
Pikirku hanya, setelah ini apa?
_o0o_
#tulisanintropeksi #baper #love #hate