About Me

About Me
Writer, Pengelola Rumah Baca Istana Rumbia, Staff redaksi Tabloid Taman Plaza, Admin Yayasan CENDOL Universal Nikko (Koordinator bedah cerpen OCK), perias dan Make-up artist PELANGI Asosiasi Entertainment, Crew Wonosobo Costume Carnival dan Crew 'A' Event Organizer (Multazam Network), pernah bekerja di Hongkong dan Singapura. Cerpenis Terbaik VOI RRI 2011, dan diundang untuk Upacara HUT RI ke 66 di Istana Negara bersama Presiden RI. BMI Teladan yang mengikuti Sidang Paripurna DPR RI 2011 dan menjadi tamu Ketua DPD RI. Dinobatkan sebagai Pahlawan Devisa Penulis Cerpen BNP2TKI Tahun 2011. Pemuda Pelopor Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah kategori Seni-Budaya Tahun 2012. Menyukai langit, stasiun kereta, dan warna biru. Salah satu penulis Undangan Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali. Dapat dihubungi via Email FB/YM : Nessa_kartika@yahoo.com.

Tuesday, April 15, 2025

#PUISI AKU MASIH MARAH

 Aku masih marah

Angin tak menyatukan rasa tara di dada

Sementara, ayunan akasia terhuyung

Berat membawa jejakan kaki burung burung

Melepas senja,

Terlarung dalam bulan kemerahan yang tersembul di balik awan yang mendung

Di samping setapak telaga

Aku, kamu dan dia, diseling amarah yang terkurung

Tak mampu katakan salam

Dari cemara dan berwarna membawa wangi damar

Meski sinarnya berjelaga



Jejakmu, masih membuatku marah

Perasaan kesal meruam

Sekujur kulitku bergetar

Keindahan tak ada lagi, hati bersimbah kesah dan cekat nafas di tenggorokan didihkan darah

Sementara aku masih berdiri di ujung harap

Cerita tentang mahacinta terkubur, bersama jasadmu

Tertimbun hitungan taun, namun tak hilang

Serta membayang di ujung

Tak kira resahnya

Kisah kita tak bercerita

Tak bisa kukatakan selamat tinggal

: kematian adalah penyimpan rahasia terbaik

Dan hanya Getar,

Tertinggal dalam kepala



(Demak-Jepara, 11 April 2025)

Saturday, February 26, 2022

GEJALA OMICRON PADA KOMORBID GINJAL DAN HIPERTENSI

Bulan Februari 2022, turunan covid 19 yang katanya lebih ringan gejalanya merebak. Dalam sekejab tetangga kanan kiri dan status WA diisi keluhan flu, pilek, nggreges.

Prokes kuperketat, apalagi karena aku pasien Gagal ginjal kronis (GGK) Stadium V dengan terapi cuci darah(Hemodialisa/HD) karena hipertensi.

***

Hari Jum'at, tanggal 18 Februari 2022, aku menjalani rapid antigen di RS SMC Telogorejo Semarang, hari itu aku dijadwalkan untuk kateterisasi AV Fistula. 

Jam dua siang, aku sudah masuk rawat inap. Axl anakku yang mendampingi juga harus swab antigen, hasilnya kami berdua negatif.

Operasi PTA ditunda esoknya karena dokter Donnie menangani pasien sampai malam.

Tanggal 19 Februari 2022, operasi berlangsung lancar walau hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Salah satu pembuluh darah yang menyempit sampai 70% tidak bisa dibalon. Harus diganjal ring.

Mungkin nanti aku periksakan ke tempat lain, misal terjadi pembengkakan lagi.

Aku keluar ryang operasi dalam keadaan hipotermia. Kedinginan sampai jari-jari yangan dan kaki mati rasa. Perawat memberiku teh panas dan buli-buli yang dibuat dari handscoon.
Sore itu juga aku sudah boleh pulang.

Kembali ke kamar bangsal, aku terganggu dengan cewek penunggu pasien sebelah yang batuk-batuk terus tanpa mau menggunakan masker. Untunglah sore itu juga aku boleh pulang.

 Aku dan Axl naik travel jam 8 malam. Mobil berisi 5 orang dan 1 anak-anak. Sepanjang perjalananan pulang kami tidur saja. Turun di cumbring, aku membayar tiket lalu mobil pergi.

***

Hari Minggu aku bed rest saja, sambil mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa dikerjakan. Begitu juga senin pagi. 

Kemudian ada berita duka, ada tetangga meninggal. Aku ke rumah Alm Fajar pun mengenakan masker, walau yang lain tidak. Setelah itu aku ke rumah adikku(Fani) sebentar, duduk-duduk sambil ngobrol tentang Alm sebelum berangkat HD. Kematian mendadak Alm Fajar membuat kami semua kaget. Alm baru berumur sekitar 25th tanpa riwayat sakit, kebetulan kakak perempuannya rumahnya di depan rumahku. Baru beberapa hari yang lalu aku bertemu Alm dan minta tumpangan motor.

Senin siang aku berangkat HD dengan adik iparku, Faroh. Semua lancar sampai pulangnya juga tumben tidak hujan. Sampai rumah Fani sudah pulang dari Semarang, kami ngumpul di kamar samvil ngobrol. Aku, Fani, Faroh, Wildan dan Abi.

Saat itu semua masih baik-baik saja.

***
Selasa, 22 Februari 2022. Aku ke rumah mba Desi. Di sana ada Mba Desi, Aura dan Idha. Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Aura dengan laptop dan tugas-tugasnya. Idha mencanting, aku menggambar dan Mba Desi keluar masuk.

Ketika azan dhuhur aku beranjak wudhu untuk sholat. Setelah sholat, aku kedinginan. Kupikir aku demam, tapi tidak. Aku pikir pasti masuk angin, ku minum sprite sisa punya Idha. 

Mba Desi bawa makan siang, hanya kumakan sedikit krn aku mual. Biasanya kalau ada buah aku makan sampai habis. Tapi mba desi beli rambutan aku cuma makan 1-2.

Aku mulai pusing, padahal sore itu aku janjian dengan Iim mau kondangan di tempat Gita.

Jam empat sire, aku merasa lemah. Untung anakku juga ke kota, sore itu motorku kutinggal satu di mangli. Aku dijemput Axl. 

Di tempat kondangan aku pusing sekali. Rasa kedinginan makin parah. Aku hanya minum teh saja disana lalu pulang.

Lalu aku WA dokter L semalaman.

***

Paginya, hari rabu, 23 Fabruari 2022 dr.L menyarankan untuk aku swab antigen. Aku swab antigen jam 8 pagi di Puskesmas Selomerto. Hasilnya positif. Dokter menyuruhku swab lagi kali ini PCR tapi tempatnya sesuai domisili. Dari ruang HD, karu juga menyuruhku untuk PCR biar lebig mantab, sambil ruangan dibersihkan karena ruang isolasi tidak dipakai lagi selama hampir setahun.

Di KTP alamatku Leksono, jadi aku segera ke puskesmas leksono untuk swab PCR dan disana juga dapat paket obat dan vitamin untuk beberapa hari.

Dokter juga memberiku no kontak WA admin untuk berkomunikasi, termasuk setor foto KK mungkin untuk data.

***

Bersambung

Wednesday, December 22, 2021

#Puisi IBU, AKU MANUSIA

(Ditulis dalam rangka memperingati #InternationalMigrantDay Tahun 2021)
Oleh Nessa Kartika

I.
Seorang gadis berkerudung merah muda
Tamat SMA dibawa ibunya ke Jakarta
"Mencari pengalaman," katanya.
Ibunya baru pulang dari negeri sana, terlihat bersinar, cantik dan semulus piring keramik di rumahnya 
Yang tanpa jendela

Diajak naik bus Sinar Jaya jam tujuh malam, 
Tiba di ibukota selepas subuh
Badan penat, tak ingin mengeluh
Tak terlihat lusuh
Hanya membawa sepasang baju dan satu mukenah

Di sebuah rumah, disambut oleh seorang mami
Diterima dengan senang hati,

Lalu ibunya pergi
Bingung ia ketika kehidupan training yang keras dan penuh caci maki dimulai
Baru disadari sang ibu telah menjualnya untuk dikirim jadi pekerja migran ke luar negeri.

Malang tak dapat ditolak
Nasi sudah menjadi bubur
Ia bercita-cita ingin memperbaiki nasib keluarganya.

II.
Di tarmak bandara yang riuh
Si gadis berambut bondol menenteng tasnya
Berdebar ia berjalan melewati petugas yang tersenyum ramah, selamat pagi

Akhirnya...
Tiba saatnya ia menuju tanah seberang
Mencari pengalaman, kata ibunya.
Memperbaiki rumah kita yang hampir roboh.
Uangmu harus dikirim ke ibu, biar ibu yang kelola.
Jadi pekerja migran cara paling cepat mengumpulkan uang.

Singapura,
Masih gelap dalam bayangannya

Mengucap bismillah, ia mengikuti langkah manusia-manusia di depannya
Gate tiga puluh dua huruf Bhe
Pesawat berwarna merah menjadi angkutannya.

Satu jam dua jam tibalah ia
Tiga jam empat jam menunggu jemputannya
Lima jam enam jam ia tahan rasa lapar dan haus

Di bawah lampu hiasan natal berwarna warni, desain futuristik dan mewah
Ia tak paham lagi dengan masa depannya sendiri
Merasa lelah, merasa payah
Terlalu berharap dan berekspektasi

Dia tidak sendiri
Belasan gadis calon pekerja migran sepertinya pun nasibnya tak pasti
Terlantar di bandara, tanpa satu hal pun mereka mengerti

Menunggu dan menunggu
Satu persatu dijemput
Menunggu dan menunggu
Si gadis ingin menangis

III.
Sebuah van berisi tujuh diisi dua puluh, bertumpuk seperti sardin
Dua puluh pekerja migran dari Indonesia, senasib sependeritaan

Si gadis yang takjub dengan pemandangan di luar
Singapura sunguh indahnya
Ratusan gedung pencakar langit sepanjang perjalanan
Entah kemana

Ternyata mereka dibawa ke sebuah asrama
Disuruh masuk dan dipanggil monyet!

Monyet indo!
Diberitahu untuk istirahat  karena besok ada medical check up
dan malam ini juga harus belajar untuk entry test

Si gadis menurut walau sakit hati, memilih satu katil untuk membaringkan diri
Yang penting akhirnya ia bisa menangis diam-diam malam ini.

Lagu milik peterpan mengalun dari arah dapur,
Dimana ibu asrama sedang menanak nasi dicampur potongan buncis, jagung dan kecap asin
Menu makan malam

Paginya, medical check up adalah siksaan
Kencing tanpa privacy
Dijejerkan dan dibolak balik bugil tanpa busana
Para monyet indo, dianggap bukan manusia.

Sekeras inikah ujian untuk orang yang mau mencari pengalaman?
Seperti inikah manusia bangsa sendiri diperlakukan?
Seperti inikah kehidupan pekerja migran??

IV.
Tuhan bersama orang-orang sabar
Dua tahun berlalu, diperpanjang
Tambah dua tahun lagi penuh kebahagiaan
Majikan ternyata manusia biasa yang jauh mempunyai hati nurani daripada bangsa sendiri di negeri orang

Kini si gadis sudah mau pulang, majikan ingin ia memperpanjang
Ia tak mau
Karena sang ibu bilang uang yang ia kirimkan sudah jadi barang
"Lihatlah kambing-kambing gemuk ini," kata ibu ketika mengirimkan sebuah foto, "semua milikmu."
Dikirim pula gambar sebuah rumah setengah jadi, masih batu bata namun sudah berjendela, "rumahmu," kata Ibu pula.
Dikirim pula foto sebidang tanah, untuknya, dibeli ibunya memakai uangnya.

Ibu merayunya jangan pulang, rumahnya belum selesai.
Kurang... Kurang... Kurang....
Tidak, ia sudah lelah menjadi pekerja migran.
Ia ingin kuliah.
Ibu, aku ingin pulang, aku bukan mesin ATM.

Akhirnya ia pulang
Namun kekecewaan yang didapatkan
Kambing-kambing milik tetangga
Rumah milik saudara
Dan tanah milik siapa.

Apa yang ia dapatkan?
Ayah tiri baru.
"Uangmu habis dimakan," kata ibunya.

Serta pengalaman, menjadi dewasa sebelum waktunya.
Dimatangkan oleh negeri tetangga.
Menjadi pekerja migran yang luar biasa walau pulang tak punya apa-apa

Gusti mboten sare
Allah tidak tidur

---Desember 2021

Sunday, December 19, 2021

#cerpen LELAKI BERHATI NYAMAN

Di sisi telaga berkabut awal musim gugur
Setengah dari kita tertawa, terpesona oleh perjalanan menuju bintang
Sedikit aku dan keakuan, tidak berkeinginan

Ada sedikit cerita yang kita akan bawa
Berasal dari masing masing rumah yang kita tinggalkan
Menjadi ode kesepian
Kita tutupi dengan membawa perasaan

Aku tak menyangka jatuh nyaman dalam dua hari pertemuan
Setelah merangkum segala kebaikan
Namun, lika likunya, bukan padaku hatimu bergemuruh
Dan rasa entah... meluruh

Kamu, lakilaki berhati nyaman
Tempat sejenak ku meneduh, menyandarkan bahu
Kau usap peluhku, mengerti akan lelahku
Seperti aku mengerti rasamu tak jauh, 
Namun keakuanmu, jiwaragamu untuk dia saja
Yang meremukkan hatiku menjadi keping

Kamu
: Tetaplah menjadi lelaki berhati nyaman
Mengubah gundahku, menjadi kebaikan.

1x1
"Harusnya aku yg di sana..."

Thursday, December 16, 2021

#cerpen CAHAYA part 1

Oleh. Nessa Kartika

Kinan mengenalnya ketika pertama bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Jalan berdebu setelah kemarau panjang. Belokan dan tikungan membuat isi perutnya serasa ingin berhamburan.

"Ibu, pusing," kata ibunya.
Sementara Pak Har di jok belakang hanya diam.

Mobil carry terus membelah jalan aspal rusak menuju desa Kasihan. Samping kanan kiri bergantian kebun salak, kopi dan albasia. Sudah setengah jam kami digoncang kesana kemari.

"Masih jauhkah?" Mas Toro sang supir mulai meyesali medan.
Kinan yang pernah ke daerah sini dengan motor lupa-lupa ingat, "sepertinya satu desa lagi... Paling parah jalan sebelum lapangan dan sampailah."

"Byuhh... Jauh sekali. Kalau dapat istri orang sini bagaimana?" Boss Yadi yang duduk sebelah sopir mencolek Mas Toro.
"Aku nggak mau," jawab Mas Toro.
Semua tergelak, sekejap lupa bahwa mereka sedang pada mabuk darat.

Benar saja, di depan mereka jalan susah dilewati. Sebuah lapangan bola di bawah bahu jalan. Seluas mata memandang view gunung dieng memanjakan mata.

Dan di atasnya, desa Kasihan twrpampang seperti desa-desa di film Korea. Bedanya bukan salju yang ada di atap-atapnya, tapi debu musim kemarau.

"Tinggal cari rumah lurahnya," kata Bos Yadi.
"Kades, boss... Ini desa, bukan kelurahan." Pak Har meralat.
"Nanti kita tanya orang," jawabku.

Ternyata rumah kades di dekat situ, sayangnya orangnya tidak di rumah. Sedang pergi ke kecamatan dan mereka hanya bertemu istrinya. Wanita sederhana saja.

***

#puisi IBU, AKU MANUSIA


Oleh Nessa Kartika

I.
Seorang gadis berkerudung merah muda
Tamat SMA dibawa ibunya ke Jakarta
"Mencari pengalaman," katanya.
Ibunya baru pulang dari negeri sana, terlihat bersinar, cantik dan semulus piring keramik di rumahnya 
Yang tanpa jendela

Diajak naik bus Sinar Jaya jam tujuh malam, 
Tiba di ibukota selepas subuh
Badan penat, tak ingin mengeluh
Tak terlihat lusuh
Hanya membawa sepasang baju dan satu mukenah

Di sebuah rumah, disambut oleh seorang mami
Diterima dengan senang hati,

Lalu ibunya pergi
Bingung ia ketika kehidupan training yang keras dan penuh caci maki dimulai
Baru disadari sang ibu telah menjualnya untuk dikirim jadi pekerja migran ke luar negeri.

Malang tak dapat ditolak
Nasi sudah menjadi bubur
Ia bercita-cita ingin memperbaiki nasib keluarganya.

II.
Di tarmak bandara yang riuh
Si gadis berambut bondol menenteng tasnya
Berdebar ia berjalan melewati petugas yang tersenyum ramah, selamat pagi

Akhirnya...
Tiba saatnya ia menuju tanah seberang
Mencari pengalaman, kata ibunya.
Memperbaiki rumah kita yang hampir roboh.
Uangmu harus dikirim ke ibu, biar ibu yang kelola.
Jadi pekerja migran cara paling cepat mengumpulkan uang.

Singapura,
Masih gelap dalam bayangannya

Mengucap bismillah, ia mengikuti langkah manusia-manusia di depannya
Gate tiga puluh dua huruf Bhe
Pesawat berwarna merah menjadi angkutannya.

Satu jam dua jam tibalah ia
Tiga jam empat jam menunggu jemputannya
Lima jam enam jam ia tahan rasa lapar dan haus

Di bawah lampu hiasan natal berwarna warni, desain futuristik dan mewah
Ia tak paham lagi dengan masa depannya sendiri
Merasa lelah, merasa payah
Terlalu berharap dan berekspektasi

Dia tidak sendiri
Belasan gadis calon pekerja migran sepertinya pun nasibnya tak pasti
Terlantar di bandara, tanpa satu hal pun mereka mengerti

Menunggu dan menunggu
Satu persatu dijemput
Menunggu dan menunggu
Si gadis ingin menangis

III.
Sebuah van berisi tujuh diisi dua puluh, bertumpuk seperti sardin
Dua puluh pekerja migran dari Indonesia, senasib sependeritaan

Si gadis yang takjub dengan pemandangan di luar
Singapura sunguh indahnya
Ratusan gedung pencakar langit sepanjang perjalanan
Entah kemana

Ternyata mereka dibawa ke sebuah asrama
Disuruh masuk dan dipanggil monyet!

Monyet indo!
Diberitahu untuk istirahat  karena besok ada medical check up
dan malam ini juga harus belajar untuk entry test

Si gadis menurut walau sakit hati, memilih satu katil untuk membaringkan diri
Yang penting akhirnya ia bisa menangis diam-diam malam ini.

Lagu milik peterpan mengalun dari arah dapur,
Dimana ibu asrama sedang menanak nasi dicampur potongan buncis, jagung dan kecap asin
Menu makan malam

Paginya, medical check up adalah siksaan
Kencing tanpa privacy
Dijejerkan dan dibolak balik bugil tanpa busana
Para monyet indo, dianggap bukan manusia.

Sekeras inikah ujian untuk orang yang mau mencari pengalaman?
Seperti inikah manusia bangsa sendiri diperlakukan?
Seperti inikah kehidupan pekerja migran??

IV.
Tuhan bersama orang-orang sabar
Dua tahun berlalu, diperpanjang
Tambah dua tahun lagi penuh kebahagiaan
Majikan ternyata manusia biasa yang jauh mempunyai hati nurani daripada bangsa sendiri di negeri orang

Kini si gadis sudah mau pulang, majikan ingin ia memperpanjang
Ia tak mau
Karena sang ibu bilang uang yang ia kirimkan sudah jadi barang
"Lihatlah kambing-kambing gemuk ini," kata ibu ketika mengirimkan sebuah foto, "semua milikmu."
Dikirim pula gambar sebuah rumah setengah jadi, masih batu bata namun sudah berjendela, "rumahmu," kata Ibu pula.
Dikirim pula foto sebidang tanah, untuknya, dibeli ibunya memakai uangnya.

Ibu merayunya jangan pulang, rumahnya belum selesai.
Kurang... Kurang... Kurang....
Tidak, ia sudah lelah menjadi pekerja migran.
Ia ingin kuliah.
Ibu, aku ingin pulang, aku bukan mesin ATM.

Akhirnya ia pulang
Namun kekecewaan yang didapatkan
Kambing-kambing milik tetangga
Rumah milik saudara
Dan tanah milik siapa.

Apa yang ia dapatkan?
Ayah tiri baru.
"Uangmu habis dimakan," kata ibunya.

Serta pengalaman, menjadi dewasa sebelum waktunya.
Dimatangkan oleh negeri tetangga.
Menjadi pekerja migran yang luar biasa walau pulang tak punya apa-apa

Gusti mboten sare
Allah tidak tidur

---Desember 2021

Tuesday, December 14, 2021

#CERPEN NATAL DAN SALJU BAUHINIA (part 1)

Udara begitu dingin dan renyah. Nafasku berubah menjadi awan kecil, begitupun dengan orang-orang yang berjalan cepat di sekelilingku. Aku harus sedikit mendaki bukit mencapai gerbang entry menuju stasiun kereta api bawah tanah. 

Langkahku melewati sebuah taman berisi pepohonan yang daun-daunnya sudah berguguran. Seperti sepotong hatiku yang kutinggalkan di Indonesia, untuk seorang laki-laki yang bahkan tak pernah lagi kupikirkan di sini.

Isi hatiku sepi dan sedingin tempat ini. Tidak berharap juga tidak menyerah. Biasa saja.

Aku berjalan di lorong panjang menuju kereta tergesa, layaknya semua manusia di sana. Dua eskalator menurun lagi dan aku mendapati gerbong kereta jam setengah dua belas menuju Chai Wan.

Semakin aku ke bawah tanah, udara dingin menusuk tulang digantikan udara hangat sedikit pengap. Aku nerapatkan jaketku.  

Tiba di peron yang kutuju, aku berjalan ke gerbong belakang. Kereta tiba semenit lagi. Pintu belum dibuka, aku nenunggu dengan sabar di sisi kanan. Sisi kiri digunakan oleh penumpang yang nanti keluar, biasanya tak banyak di ujung gerbong ini.

Aku memilih gerbong paling ujung karena sepi. Aku bisa tidur sepuas hati. Apalagi Chai Wan terletak di ujubg pulau, jika pun aku terlelap, masinis yang berbalik akan membangunkanku. Kereta cepat ini punya dua kepala, masinis tinggal menuju ekor jika mau membalikkan arah kereta. Praktis.

Denting lagu natal terdengar meriah, suasana peron sudah didekorasi sedemikian rupa. Aku menatap jam digital di atasku yang berganti angka 11.30 ketika akhirnya kereta tiba.

***

Desir hati terasa ketika melewati gedung-gedung kawasan industri. Di sini tidak meriah seperti Kow Loon. Rumah susun kuno berderet dan bangunan kumuh milik nelayan dimana-mana.

Di sisi kananku verjalan menuju gudang Kingsly bebatuan pantai, dimana jika aku lelah aku akan berhenti sejenak duduk di sana. Hanya ini waktu luangku, pun terbatas lima sampai sepuluh menit saja. Kalau kelamaan Kingsly pasti marah-marah karena aku terlambat.

Kingsly mempunyai sebuah kantor perusahaan catering dan dapur raksasa. Para chef bekerja sepanjang pagi, Orang-orang belajar memasak di sore dan malam hari. Aku punya waktu dua jam selepas jam makan siang untuk bersih-bersih setiap harinya sebelum kelas dimulai lagi.

Jangan bayangkan alat rumah tangga di sini. Tempat ini seperti laboratorium alien dengan segala alat dan mesin berbahan stainless steel yang harus kugosok dan kucuci sampai mengkilat.

Tidak ada belas kasihan, dari langit-langit sampai dinding dan lantai semua harus kucuci. Tidak ada gunanya semua training kerja rumah tangga waktu di penampungan, disini aku robot pembersih baja anti karat. Waktuku hanya dua jam saja.

Lalu Kingsly akan membawaku makan siang di sebuah warung au lam mien sebelum aku pulang lagi dengan kereta. Kingsly akan pulang dengan mobilnya.

Tidak mungkin majikanku ini mengajakku ikut mobilnya, badanku sangat kotor tentu saja setelah mencuci semua minyak dan debu.

Justru aku menikmati betul trip ini. Di jalan aku akan mampir ke 7/11 untuk membeli potato chip, air mineral dan buah-buahan. Duduk di pantai atau stasiun menunggu kereta, lalu aku mencari telepon umum, mencari ayah atau ibuku melalui wartel terdekat untuk berbincang. Satu dua koin sen dolar sudah cukup untuk menuntaskan kerinduanku. Hidup sesederhana itu.

Aku kembali ke Kwun Tong, menuju rumah nenek. Nanti malam baru kami akan dijemput pulang ke Lam Tin. 

***

Saturday, December 4, 2021

Kangen Hongkong (Part 1)

Masa menjelang natal
Masa-masa aku merindukan Hongkong maksimal
Walau aku muslim, aku merindukan lagu natal
Rindu suara angin dari lantai 27
Rindu pemandangan laut dari jendela kamarku

Jam segini, 
Setelah makan malam dan bersih-bersih
Setelah itu mandi
Aku berdua bermain dengan Carly
Anak majikanku yg baru berumur lima tahun
Kami memanggilnya Baby
Lalu aku berusaha membuatnya tidur.
Tak jarang Baby akan tidur di kamarku

Kingsly akan menonton pageant atau fashion show di kamar
Dia memang pecinta wanita
Mum Dorin membaca majalah di depan televisi
Carly akan menceriwisi aku dengan lagu natal dari disney kit

Lagu twelve day of Christmas akan kami mainkan,
Aku mengajari Baby bahasa Inggris dengan itu
Di tengah musim dingin tahun pertama
Musim ketiga aku di negeri bauhinia

Musim dingin pertama dalam hidupku
Dari jendela kamarku, pemandangan laut
Pelabuhan serta gedung tinggi syahdu
Laut seakan membeku
Bahkan darah mengalir dari pori kulitku
Udara terlalu kering

Pagi aku mulai dengan mencuci dan menyiapkan sarapan. Membangunkan Carly lalu mempersiapkannya untuk sekolah.
Tak ada acara mandi pagi di Hongkong

Kuingat,
Setelah mengantar Carly ke tempat halte sekolah
Aku ke Kwun Tong, ke rumah Nenek dan Kakek untuk bersihkan rumah mereka

Biasanya Nenek dan Kakek lalu akan membawaku ke pasar, belanja untuk makan malam lalu menikmati yam cha untuk sarapan

Favoritku dim sum, ketan berisi daging dan ceker ayam yang dimasak hingga melar
Dulu yam cha sangat membosankan, 
Kadang terpikir mengapa budaya orang makan pelan-pelan sambil ngobrol? Mau makan aja satu piring berebutan pake sumpit...sekarang semua terasa dirindukan.
Suasananya, suara piring keramik beradu, suara teh dituang dari teko ke cangkir-cangkir  ... Budaya yam cha

Lalu nenek akan mengajakku
Menyusuri wet market membeli sayur, 
Atau ikan dan ayam yang mana masih hidup
Penjual akan menyembelihnya di depanmu

Setelah itu aku akan naik kereta MTR ke Chai Wan
Ke pusat industry
Ke pabrik Kingsly, kateringan
di loby depan lift terdengar lagu Jingle Bells
Setiap hari setiap pagi

Lagu itu menemani aku bersih-bersih dapur dan kantor...
Kateringan aktif siang hingga malam, jadi pagi dibersihkan
Aku tidak sendiri
Aku berdua dengan Kingsly, dia mengawasi setiap jengkal dapurnya yang harus grease free
Setiap hari kugosok panci hingga mati rasa jari jemari
Berdua...
Yang ketiga, tentu saja setan

Kingsly yang baik, entah apa dalam pikirannya
Sampai hari itu, sebelumnya baik-baik saja
Dia majikan aku pembantu.
Jika para koki ada disitu bahkan aku diperbolehkan mencicipi kue kue lezat buatan mereka atau murid cooking class

Peristiwa itu dimulai suatu hari saat hanya berdua, ketika aku mencuci panci
Kingsly mulai aneh
Mendekatiku dari belakang, menempelkan diri ke panttatku(maaf)
Aku kasih seratus dolar kalau kamu mau sama aku, gimana? Dia menawarkan
Aku menolak dan berusaha mengelak tangannya yang kurang ajar, dia malu sendiri

Namun kejadian itu terjadi berulang kali
Di kantor, di kitchen catering
Di rumah... Aku selalu berhasil mengelak
Dia selalu merayu
Dia selalu menawarkan uang.
No!

Hingga suatu ketika,
Setelah mengantar Carly, aku tidak langsung ke rumah nenek 
Ternyata... 
Kingsly pulang lebih awal,
Atau dia sudah mulai menganggur, ada masalah di pabriknya
Bahkan dia jual mobil untuk menutup bangkrutnya

Saat itu aku sedang mandi karena keringatan setelah kerja extra
Selama ini selalu bersih-bersih rumah di malam hari, tidak maksimal, jadi di pagi hari kadang perlu kerja extra.
Majikan type orang yang akan mencolek debu di mana-mana jika ada, dan aku harus membersihkannya dengan seksama.

Sedang mandi, Kingsly masuk begitu saja di kamar mandi
Memarahiku tidak jelas
Sementara aku berusaha menutupi aurat
Kenapa aku mandi?
Kenapa pagi-pagi mandi?
Abis ngapain kok mandi?

Semakin bingung aku.
Apa salahnya mandi pagi? Apalagi setelah badan kotor dengan minyak, keringat dan debu.
Aku hanya menyuruhnya pergi atau aku akan berteriak minta tolong.
Dia pergi. Aku segera memakai baju

Tak berhenti disitu
Keluar dari kamar mandi, Kingsly menguntitku
Aku lari ke kamar dan mengunci pintu
 hingga malam hari

Dorin pulang, baru aku keluar
Dia bertanya kenapa aku tidak ke rumah nenek dan Kingsly yang menjemput baby


Aku bilang sibuk bersihkan rumah
Kingsly sendiri yang mau

Malam itu Kingsly dan istrinya bertengkar
Dipukulnya wajah Dorin hingga matanya lebam sebelah.

Dorin menyalahkanku.
Aku masih tidak mengerti dimana salahnya mandi di pagi hari.
Aku difitnah
Di depan Dorin aku dimaki-maki oleh Kingsly
Hingga Dorin ikut angkat tangan, hingga bibirku sobek
Di saat hanya berdua, Kingsly merayuku habis-habisan.

Esoknya,
Dorin yang membawa baby sekolah
Aku sedang beres-beres dapur
Ketika Kingsly menyergap dan berusaha memperkoasku

Aku menendang Kingsly dan mendorongnya, hingga salah satu mug pecah.
Lalu aku kabur keluar.

Aku menelpon nenek, minta maaf karena tidak datang ke Kwun Tong. 
Nenek penuh perhatian tanya mengapa?
Aku tidak mungkin bilang Kingsly berusaha memperkoas aku. 
Aku takut dituduh merayu.
Aku tidak bilang apa-apa

Lalu aku menelpon ibuku, kemana sebaiknya aku pergi?
Kantor polisi!

Dan, Lamtin Police Station menjadi tempat aku lari
Tak tahu siapa yang harus kulaporkan 
Kingsly atau Dorin
Disitulah kumelihat topeng yang dipakai majikanku
Saat menjemputku, manisnya minta ampun dua-duanya
Elisa, kamu mau melihat kami dipenjara? 
Kamu tidak kasihan baby?
Mereka ketakutan... Luka di bibirku jadi bukti
Polisi bertanya apa tuntutanku? 
Pulang!

Aku ingin pulang ke Indonesia.

Bersambung...
*Dec 2003



Monday, October 4, 2021

#Puisi IJINKAN AKU

Ijinkan aku
Bertanya padamu tentang asmara yg pernah dipersiapkan Tuhan
Namun kau balikkan menjadi luka

Ijinkan aku
Bertanya tentang rasa sepi memanjang sejak tiada lagi cahaya dan senyummu setiap pagi

Ijinkan aku, Kawan baikku...
Bercerita tentang apa saja padamu
Di setiap pagi dan malam kita
Tanpa kita terbawa perasaan
Kesalahan dan penyesalan

Ijinkan aku...
Sebab...
Harihari yang kulalui berat tanpa musabab
Dan airmata bukan lah bagian dari diriku
Hingga rongga hatiku begitu kosong
Tiada tempat menceritakan segalanya

Ijinkan aku
Karna hidupku kosong hampa

@ home, di atas kasur jam 8 pagi
Mendengar kembali lagu yg kubenci

Sunday, June 13, 2021

BAPER

Setelah sekian purnama tidàk merasakqnnya
Sekarang tergodq
Ada rasa terbawa
Sedikit cmburu
Dan rindu jika sehari tak ada kabarmuh...

Tuesday, December 22, 2020

#Puisi RUMAH GUBUG BERLANTAI LIMA

Rumah gubug berlantai lima
Menjaga sebuah lereng perkampungan
Saksi sebuah kota tumbuh
Saksi gedung-gedung menelan persawahan

Rumah gubug berlantai lima
Tak punya pintu keluar
Tak punya pintu masuk
Tak jua punya jendela

Rumah gubug berlantai lima
Sejarah sebuah kota
Anak-anak tumbuh 
Melalui tiga masa

Rumah gubug berlantai lima
Dijaga oleh zaman
Dipelihara oleh kemiskinan
Rapuh ditinggalkan
Tak bisa untuk pulang

Rumah gubug berlantai lima
Pernah berisi cinta
Sepasang orangtua dan anak-anaknya
Nasib memencar semuanya

Rumah gubug berlantai lima
Bukan lagi rumah manusia
Masih rumah, nostalgia

Des 2020

Thursday, November 26, 2020

#puisi Pertemuan

Seketika waktu patah
Di ujung kabut dan titik gerimis
Perjalanan berliku menujumu
Hadirkan deja vu

Kenangan terhenti
Kita dua manusia jatuh cinta
Kala itu, dengan segala rindu
Hingga aku dan kamu
Terjebak keadaan
Saling meninggalkan

Lalu,
Hari ini kita bertemu lagi
dan menyadari
Getaran itu masih ada
Hanya tak bertemu frekuensinya

Kuripan, 21 Nov 20

Tuesday, November 10, 2020

#puisi Awalnya; Selamat Hari Pahlawan

Hari itu, di kantor itu semua berubah.
Hari itu di kantor itu, nasibku sudah divoniskan.
Divoniskan dengan cara ujian terberat yang pernah kurasakan dari Tuhan.
Hari itu juga di kantor itu...
Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang,
Maha baik
Maha kaya
Maha penyembuh
Maha segalanya
Memberiku keajaiban
...
Berupa kesempatan hidup kedua.

Pada hari itu
Aku tak menangis
Aku tak mampu menangis
Pun tak ada penyesalan
Dan segala seharusnya

Aku tertawa
Menertawai kebodohanku
Karena tanda tandanya disana
Gejala gejalanya di sana
Tuhan sudah kasih tahu
Dengan segala kemahasoktauanku
Dengan segala acuhku
Akan tubuhku
Akan tingkahku
Akan gaya hidupku

Kini,
Tuhan telah bukakan mataku
Beri aku waktu
Berserah
Memohon ampunan
Memohon kesembuhan
Memohon sedikit umur
Menjadi pahlawan bagi diri sendiri
Pejuang tangguh
Untuk berbahagia
Dengan hemodialisa.

Dafam, 101120

Friday, October 23, 2020

#DIALYSISJOURNAL #5 ALLAH MAHABAIK

Setelah operasi baloning di bulan Agustus lalu,  lenganku sudah tidak bengkak, tapi kepalaku masih bengkak. Itu aku ketahui setelah beberapa kali HD.

Aku kembali konsul ke dokter Donnie. Dokter Donnie menjadwalkan CT Scan.

Aku membawa surat pengantar CT scan bertanggal 15 September ke bagian radiologi. 

"Ibu Anissa, ada hasil lab ureum dan creatin terakhir?" tanya petugas.
"Terakhir tanggal 20 Agustus, mbak."
"Iya, ndak papa."

Kukeluarkan hasil lab terakhir waktu kontrol di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo yang penuh bintang. Terutama dua bagian terakhir. Ureum kreatinin bintang tiga. Nilai kritis.

"Ini ureum dan kreatinnya tinggi sekali. Kami tidak berani, bu."
"Hah? Terus gimana, mba?"
"Kami tidak berani karena harus pakai obat. Karena ureum dan kreatin tinggi sekali Ibu setelah scan harus HD. Ibu HD dimana?"
"Di Wonosobo."
"Itu sebabnya kami tidak berani."

Aku belum paham maksudnya. Obat apa? Kenapa tidak berani? Apa hubungannya dengan HD?

"Aku WA dokter Donnie dulu ya, mba."
"Baik."

Aku pun menyampaikan ke dokter Donnie apa yang dikatakan petugas radiologi.

"Oh iya, harus kontras," kata dokter Donnie, "sebentar, jangan pulang dulu, tunggu di depan poli."

Aku dan adikku  pun menunggu di depan poli. Sekitar satu jam kemudian suster memanggil. 
"Ini karena Ibu Anissa nilai kreatin dan ureum tinggi sekali, jadi CT scan dan HD dirujuk ke RS Kariadi," katanya.

Aku harus mengurus surat pengantar pada dokter Raymond di lantai L.

Di lantai L aku diantar satpam ke depan ruang dokter Raymond, aku menceritakan keperluanku pada petugas yang menerima surat pengantar, lalu kembali disuruh menunggu.

Tak berapa lama petugas kembali, "Ibu, ini sudah sore dokternya sudah pada pulang. Ibu bisa pulang saja, nanti tunggu telepon dari rumah sakit untuk jadwal CT scan-nya."

-o0o-

#Senin, sebulan kemudian

Aku sedang di RS menjalani HD rutin, ketika anakku masuk ke ruangan.
"Mah, Ibuk bilang besok Selasa-Rabu ke Semarang."
"Oh ya? Kamu abis dari tempat Ibuk?"
Dia mengangguk. Dia memang memanggil neneknya dengan sebutan Ibuk. Mungkin karena mendengar aku memanggil ibuku begitu.

Aku sedang menunggu kabar dari rumah sakit untuk tindakan CT scan yang rencananya harus dirujuk ke RSUP Dr Kariadi. Selama menunggu aku banyak browsing tentang CT scan dan hubungannya dengan HD, ternyata ada obat yang dimasukkan dan harus dikeluarkan lagi. Untuk orang normal cukup minum banyak-banyak nanti keluar bersama kencing, tapi tidak bisa seperti itu untuk pasien gagal ginjal kronis yang menjalani HD.

Hari berganti hari, hingga sebulan baru dapat kabar dari RS SMC.

Aku menghubungi ibuku. Ibu bilang minggu depan hari Selasa dan Rabu harus ke rumah sakit. "Tidak jadi dirujuk ke RS Kariadi. Tapi karena minggu depan Pakde mantu, kita ke sana besok saja."

Aku tertawa. "Ya nggak bisa begitu, ini kan jadwal dari RS minggu depan. Mana bisa kesana besok?"

Ibuku bersikeras, "Orang dari RS bilangnya Selasa dan Rabu boleh minggu ini boleh minggu depan kok."

"Tadi katanya minggu depan?"

Karena ibuku bersikeras akhirnya aku membatalkan rencana lain dan pergi ke Semarang esoknya. Itupun harus menunggu ibuku menyelesaikan urusannya dulu.

"Kita berangkat habis dhuhur," kata Ibu.
"Ibu sih gimana...? Dokter Donnie kan mulai jam 10 sampai jam 1."
"Ya sudah... Ibu bisa berangkat jam 10."
Aku tidak yakin tapi ibuku sudah tidak bisa dibantah.

Kami tiba di RS jam setengah 3, tentu saja dokter Donnie sudah tidak ada. Kami ditolak di pendaftaran.

Karena sudah disitu, kami pun menuju ke radiologi untuk memastikan. Sebenarnya karena aku tidak yakin dengan ibuku. 

"Ini miskomunikasi ya, Bu. Jadi jadwal ibu Anissa itu tanggal 21 Oktober. Hari Rabu depan. Bukan hari Rabu ini," kata petugas radiologi.

Nah kan!

-o0o-

Selasa seminggu kemudian aku ke Semarang lagi. Kali ini aku mengajak adikku si Retno.

Setelah melalui pemberkasan pertama, kami menuju poli dan menunggu dokter Donnie. Setelah bertemu dokter Donnie lalu diarahkan untuk menuju poli dalam untuk minta pengantar lab.

Kami meluangkan waktu untuk sholat di mushola lantai 2  dan makan di lantai L sebentar sebelum lanjut.

Aku lalu membawa surat internal dari dokter Donnie untuk pemberkasan kedua di BPJS, agak ribet sepertinya karena petugas BPJS harus telepon kesana kemari. Kami menunggu dengan sabar. Setelah clear kami pun menuju poli dalam. Bertemu dr Dwi dan mendapatkan pengantar lab.

"Ini labnya biasanya dapat dua, tapi untuk mbaknya karena beresiko dapat banyak." Suster membocorkan.

Kami menuju laboratorium. Benar. Aku harus diperiksa banyak hal, dari Hepatitis, HIV, PCV, Kreatinin, Ureum hingga Rapid test. 

Rapid test memang menjadi keharusan di masa pandemi Covid-19 ini dimana-mana. Hanya rapid test yang harus bayar tunai. Lainnya dicover BPJS. Setelah itu menuju radiologi untuk ronsen thorax lagi.

Karena sudah di radiologi, aku pun menanyakan untuk jadwal CT scan besok ke petugas. Ketika aku menunjukkan surat pengantar petugas langsung kebingungan.

"Ibu, ini surat pengantarnya tanggalnya sudah sebulan yang lalu."

Oh iya!

"Iya, mbak. Karena jadwalnya mundur mundur terus, tapi bisa ditanyakan ke dr Raymond, katanya saya udah dapat jadwal CT scan dan HD untuk besok." Aku memberitahunya.

Sore itu, kami menunggu petugas mengurus surat pengantar yang baru. Kami disuruh pulang, menunggu di rumah. Kami pun pulang ke rumah kakak sepupu di Tembalang. Tiba disana sekitar maghrib.

Aku langsung mengistirahatkan kakiku yang sakit karena seharian muter-muter di rumah sakit.

Sekitar jam delapan malam akhirnya ada telepon dari rumah sakit. Dua kali. 

Telepon yang pertama memberitahukan jadwal CT scan jam sebelas, dan menyuruh besok pagi  datang ke poli untuk mengambil surat pengantar.

Telepon yang kedua menanyakan hasil lab ureum dan kreatinin.
"Belum diambil hasilnya, sus."
"Ibu sudah lab?"
"Sudah."
"Dimana?"
"Di Telogorejo."
"Belum, Ibu. Tadi Ibu tidak cek ureum dan kreatininin."
"Sudah kok, sus. Aku sudah bilang tadi minta cek ureum dan kratinin."
"Kapan?
"Tadi sama dokter Dwi. Masa belum?"
Seingatku di surat pengantar lab juga sudah dicentang untuk lab ureum dan kreatinin.
"Kalau begitu, ibu besok harus datang lebih awal. Jam sembilan."
"Baik."

-o0o-

Paginya, kakiku masih sakit sekali. Kami berangkat ke rumah sakit naik Grab. Jam sembilan kami sudah tiba di poli. Setelah memberitahukan kehadiranku ke suster tak berapa lama suster memanggil.

"Ibu Anissa bisa langsung ke radiologi saja, nanti suratnya kami susulkan."

Dalam perjalanan ke radiologi kami sekalian mengambil hasil lab dan rapid test juga hasil ronsen di radiologi.

HbsAg negatif, HIV negatif, PCV negatif, Ureum dan kreatinin bintang bintang seperti biasa, rapid test juga non reaktif dan hasil ronsen mengecewakan, selain kardiomegali(seperti yang aku sudah tau), juga efusi pleura alias paru terendam cairan serta Bronkhitis!

Aku jadi ingat percakapanku dengan mbak Alma yang sudah transplan tentang dokternya yang menyarankan untuk segera transplan mumpung organ lain masih bagus. Juga postingan seseteman di grup HD yang bilang ditegur dokternya kenapa suka merusak organ tubuh yang berpasang-pasangan karena merokok. 

Aku berdoa dan berdoa minta kesembuhan. Ginjalku sudah rusak, jantung juga sudah berefek, kali ini paru-paru juga terganggu... semoga Allah mengangkat penyakitku dan memberi kesembuhan yang tidak meninggalkan penderitaan.

-o0o-

Rabu, 21 Oktober 2020 

Jam sebelas tepat, setelah bertanya apa saja keluhanku sehingga harus CT scan, dan sekali lagi mengingatkan bahwa tindakan kali ini beresiko suster mengajakku masuk ke bagian CT scan. Setelah masuk ruangan dan berganti baju operasi, aku disuruh berbaring di mesin MRI yang seperti pesawat terbang itu.

"Mbak, ini kan dimasukkan obat kontras jadi nanti harus langsung HD."
"Iya, sus."
"Nanti HD nya jam 1."
"Iya."
"Sekarang kita pasang infus dulu ya."
"Iya."
"Bra-nya sudah dilepas kan?"
"Iya."
Setelah itu suster yang berjumlah tiga orang sibuk mempersiapkan infus dan obat kontras.

Tusuk pertama di bagian lengan bawah siku.
"Aduh bengkak," salah satu suster berkata,"maaf ya Ibu ini bengkak, kita tarik lagi dan pindah."
Lagi-lagi aku cuma bilang iya.

Tusuk kedua di atas jari-jari, bengkak. 
"Pembuluhnya kecil dan belak belok, padahal obatnya tidak seperti HD... HD kan pelan. Ini nanti obatnya cepat. Harus cari pembuluh yang besar."

"Mungkin karena kedinginan, jadi mengkeret, sus," aku mencoba bercanda karena suster sudah kelihatan tegang dan khawatir.

Tusuk ketiga di pergelangan tangan luar, bengkak.
"Harus cari yang paling nyaman. Kalau sampai gagal, obat tidak masuk harus diulang."

Tusuk keempat dekat yang ketiga, berhasil. 

Pemeriksaan pun dimulai. Kepalaku diikat. Lalu bed bergerak masuk ke mesin. Bunyinya seperti di dalam pesawat terbang. Aku bingung aku harus tutup mata atau buka mata. Kuputuskan untuk merem saja.

Terus terang aku takut, apalagi tahu tindakan ini beresiko.

"Diam, jangan menelan," kata mesin. Aku bahkan menahan nafas juga, tegang. 
"Selesai." Aku bernafas lagi.

Kukira selesai betulan. Ternyata proses ini diulang-ulang.

"Obat masuk." Suster memberitahuku.

Seketika rasa sakit mengisi pembuluh darahku. Seperti ditembak. Sakit sekali.

"Sakit, sus!" kataku lemah.

Suster jelas saja tidak bisa mendengar karena mereka berada di ruangan lain.

Kembali aku keluar masuk mesin, hingga selesai proses sekitar satu jam kemudian. Suster mulai mencopoti alat dari kepalaku, juga infus. Suster mengelus-elus tanganku yang penuh bengkak. Pembuluh yang bekas menyuntik obat tampak membesar sepanjang sepuluh senti.

"Biar kuoles trombopop dulu ya, semoga bengkak bengkaknya cepat pulih." Suster lalu mengaplikasikan gel dan setelah selesai aku pun ganti baju.

"Hasilnya diambil waktu kontrol ya," kata suster waktu aku keluar.

"Jangan lupa HD jam 1."

"Iya."
Akupun keluar dalam keadaan setengah demam. Menggigil karena kedinginan.

-o0o-

Aku dan adikku buru-buru mencari teh panas dan makan siang. Aku minum sebutir paracetamol. Lalu kami menuju ruang HD.

Beberapa suster mengenaliku. Aku memang pernah HD di situ setelah tindakan dengan dokter Donnie beberapa bulan yang lalu.

Setelah selang terpasang, HD dimulai, aku tayamum dan sholat. Lalu berdoa serta berterima kasih. Betapa berat perjuangan ikhtiarku sampai detik ini, namun betapa banyak kebaikan-kebaikan yang kudapatkan di rumah sakit ini, betapa Allah mempermudah urusanku. 

Allah mahaBaik.










Wednesday, August 26, 2020

#puisi ADA YANG RINDU

Ada yang rindu padaku
Aku tahu

Sejak pandemi mendera
kita belum pernah bertemu
Aku dengan kesibukanku
Dia dengan kesibukannya

Dia yang pernah menjadi hari-hariku
Aku mencintainya sungguh
Seperti Bulan mencintai Bumi
Setia dengan peredarannya
Selalu ada dimana dia berada

Aku mencintainya sangat
Seperti cinta matahari pada galaxy
menghidupi
menjadikannya pusat peredaran siang malamku
sumber senyum tawaku

dan ketika dunia disapa pandemi
cinta tenggelam
menjadi rindu tak berkesudahan

Bertemu pun tak bisa
Ingin menyapa namun tak kuasa

Kemarin,
Akhirnya dipertemukan
Aku melihat rindu di matanya
dan betapa aku merindukan suaranya
tawa dan pelukannya.

Ah, cinta tak pernah sederhana
diantara kita.

25 Agt 2020

Tuesday, June 9, 2020

#Puisi AKU DISINI TANPAMU

Saat Tuhan menciptakan cinta
Menghangatkan hati
Seperti mentari menyinari pagi

Kemudian kehilanganmu
Aku tersedu di ujung kenangan
Tak mampu menghadirkan lelaki
Penuh perhatian seperti engkau

Dengan segala drama yang ia tunjukkan,
Kau seharusnya untukku
Mengisi hari dengan rindu dan senyuman
Bukan dijadikan boneka mainan

Ah, tapi kau tak tahu
Kekasihmu yg bermuka dua
Mempermainkan hati anak orang
penuh luka dan kebencian

Aku ingin memberitahu kamu
Tapi tak akan ada gunanya
Lebih baik aku mundur
Suatu saat kau tahu sendiri

Friday, March 27, 2020

#puisi AKU MASIH RINDU

Tak peduli berapa kalipun meradang
Hati tak ingin mengakui
Kepergianmu meninggalkan ruang kosong
Yang entah kapan akan terisi lagi

Kau membawa senyumku pergi
Sedang, kerinduan masih tergambar disini
Resah menjadi jadi
Rasa terbuang, tak mampu menangisi

Di ujung malam kau menghilang
Menjadi debu bintang melebur menjadi fajar
Tinggallah kesepian menawarkan diri
Menjadi penggantimu

#puisi TANPAMU

Tanpamu
Duniaku kehilangan mentari
Mencabut senyumku di akar pagi
Menggenggam gundahku di malam hari

Kau sudah berjanji
Memperhatikanku setiap hari
Kini kau yang pergi
Aku terpaku di sini

Setelah tanpamu
Hari hari ku kembali sepi
Tak ada canda tawa
Dan kisah kisah yang kauceritakan
Sepanjang hari

Dan, tanpamu
Kesepian ini kian menjadi
Tak ada tempatku bersandar lagi

Monday, March 23, 2020

YOU DON'T LOOK SICK

YOU DONT LOOK SICK

Curhat ya, guys
kemaren ada yang komen di WA aku, orang katanya lagi sakit lagi HD kok tampil prima make up an segala malah kadang update selfi2, makan2, postingan jalan-jalan, dsb.Trus dia nyinyir bandingin dong orang sakit bla bla bla ...

Dikira sakit bohongan kali ya... 

Aku sebenarnya nggak mau nulis ini, tapi kalian mungkin perlu tahu. Gimana sih kondisi pasien #Gagalginjalkronis (GGK) yang menjalani terapi #cucidarah #hemodialisa #dialysis kayak aku? 

Guys,
#Gagalginjal memang permanen, ini bukan penyakit, tapi penurunan fungsi ginjal, untuk stadium 5 kayak aku ginjal dah soak dua-duanya, (yes, manusia punya 2 ginjal) fungsi dah sekitar di bawah 15% aja. Artinya, air yang tiap hari kuminum dan racun dah ga bisa keluar secara alami lewat urine alias pipis alias BAK, muter lagi di tubuh, air dan racun ini yang bikin mukaku kadang bengkak dan keluhan lain yg sering kutulis. 
Jadi, fungsi ginjal utk mengeluarkan racun dalam darah digantikan oleh mesin. 

Makanya 2 x seminggu harus ke RS untuk cuci darah. Pengobatannya RAWAT JALAN jadi bener sering keluar masuk RS, SELAIN ITU AKTIFITASKU MASIH NORMAL.

OTAK NORMAL, TANGAN NORMAL, KAKI NORMAL, ORGAN LAIN NORMAL, BICARA NORMAL. (Sory nge-gass... aku agak kesel...)

FYI tiap hari aku masih kerja. Kerjaku juga bukan di belakang meja, tapi sering ke pelosok pelosok desa ketemu orang banyak. Ga usah disebutin lah kerja sama siapa. Jadi wajar dong dandan...

NGGAK PENTING BGT ADA YG KOMEN SOAL INI SAMPE SEGITUNYA. 

Tiap senin kamis, sesibuk apapun aku jam 13.00 WIB teng harus sampe rumah sakit utk cuci darah. Nggak enak, guys. Tapi ini wajib kalo mau tetep hidup normal. Selamanyanya, Seumur hidup, kecuali kalau mau ganti ginjalnya, transplantasi. Ini ginjal ciptaan Allah, guys. Ga ada spare part-nya. Kecuali ambil dari tubuh orang lain.

Lagian seminggu ada 7 hari, buat HD cuma 2 hari aja, itupun siang, emangnya selain itu aku kudu rebahan aja?

So, doakan saja aku tetep semangat. Allah yang tahu berapa panjang umurku, jadi selama masih bisa bernafas semoga aku masih bisa berkegiatan yang manfaat.

You just never see the lowest point of my life sebelum ngatain. 😪😪😪 makanya banyak-banyak minum Aqu*a

Saturday, March 21, 2020

#puisi HILANGNYA PUISI

Hati,
Taukah ia akan hilangnya puisi
Yang kugubah di bawah bantal
Saat malam menjemput pagi

Puisi yang kutulis
Tentang lelaki yang menemaniku
Di titik terendahku
Bagai detak jantungku sendiri

Puisipuisi terserak
Tak mampu kukirimkan 
Hati melara, ia jatuh cinta

Di simpang jalan kuberdiri
Mendekap puisi terakhir tentang patah hati
Dan melepasnya pergi
Bersama rasa, ia hilang 
Terbang tinggi

Di kedalaman jiwa
Aku mencoba menguntai rasa
Agar menjadi biasa saja